Assessment Dan Pertemuan Pertama Dengan Laptop

  • Share

Oleh: Adi Saputra Wansa.

Halsel-TeropongMalut.com, Sepuluh Tahun yang lalu, untuk pertama kalinyaa saya ke Halmahera Selatan. Sebagai pengajar dari kota, laptop adalah salah alat yang menenami saya dalam banyak hal saat mengajar dulu.

Guru di tempat saya bertugas dulu bahkan masih belum tahu cara membuka dan menyalakan laptop. Siswa apalagi, laptop dalam benak mereka adalah lambang kekerenan, modern dan kekayaan.

Kerap kali saat saya bertemu dengan para guru dan siswa juga orang tua siswa, yang pertama kali mereka tanyakan kepada saya adalah, berapa harga laptop saya?

Masih hangat dalam ingatan saya, saat salah seorang kawan guru meminta saya mengajarinya membuka dan menyalakan laptop. Kikuk tangan beliau masih saya kenang. Bahkan, ada guru yang marah saat saya membiarkan siswa saya menyentuh dan mengetik beberapa kata yang saya minta. Kemarahannya tentu lebih kepada takut rusak.

Assessment pengganti UN dan UN yang online bagi saya secara pribadi amatlah bagus. Terlepas pada hasilnya apa dan berapa. Tapi assessment atau UN online pada tahun lalu (2020) bisa jadi adalah pertemuan pertama banyak siswa dan guru terhadap laptop atau komputer.

Pada tahun ini, beberapa sekolah terkonfirmasi menumpang di sekolah tertentu, untuk melakukan kegiatan assessment mereka. Hal ini dikarekan beberapa aspek, sekolah mereka tidak memiliki laptop atau komputer, atau tidak ada sinyal dan lisrik di sekolah mereka.

Hal seperti ini biasa dan jamak kita temui di sekolah-sekolah di Halmahera Selatan. Sehingga bisa jadi pelaksanaan assessment kali ini yang dilakukan secara online merupakan kisah pertemuan pertama antara mereka (siswa dan guru) dengan laptop atau komputer.

Kita tidak perlu malu guna mengakui hal ini. Nyatanya, meski kita telah merdeka, meski dalam UUD negara kita, mencerdaskan kehidupam bangsa termaktub disana, pendidikan dan kualitas para lulusannya sangat berbeda, Barat, Tengah dan Timur Indonesia.

Barangkali ini menjadi realita yang sudah barang tentu membutuhkan pembiayayaan dan kepedulian terhadap sekolah-sekolah yang tertinggal dalam pembelajaran seperti di atas. (Selesai)

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *