Slider
426 views

Diduga Yayasan Muhammadiyah Caplok Lahan Warga Fitu

Ternate – TeropongMalut.com, Merasa di rugikan, warga kelurahan Fitu akhirnya melakukan aksi demonstrasi dengan memblokir jalan arah utara-selatan menuju kampus Unkhair II, Muhammadiyah dan STKIP.

Dari pantauan awak media di tengah-tengah demonstrasi, hal tersebut di lakukan di karenakan lahan tanah warga Fitu 7 hektar yang terletak di Tempat Perkubuaran Umum (TPU) tepatnya disamping jalan raya itu di duga, telah dirampas oleh PT.PN 28 dan Yayasan Muhammadiyah Maluku Utara.

Koordinator lapangan (Korlap) Risno Wahid, menyampaikan, pengklaiman tanah yang konon katanya di hibahkan pemerintah Malut untuk Yayasan Muhammadiyah, akan tetapi menurutnya, dari hasil investigasi yang di lakukan tim advokasi di lapangan tidak ada ditemukannya proses penghibaan itu.

“Jadi pada prinsipnya kita di keluarahan Fitu sangat membutuhkan lahan tersebut. Sesuai sejarah pada tahun 1997 sesuai punyanya masyarakat bukan punya pemerintah.
Kalau mereka katakan lahan itu milik mereka dari mana asalnya. Ketika kami melakukan konfirmasi di bagian aset provinsi Maluku, katanya dorang tidak memberikan lahan itu ke Yayasan Muhammadiyah. Sekarang aset ini sudah di kembalikan ke provinsi Maluku pada tanggal 20 September 2020″ Katanya kepada awak media di tengah-tengah aksi demonstrasi, Rabu (11/25)

Risno menegaskan, tanah yang di ambil Muhammadiyah rencananya di kontrakkan ke kampus Pasantren Hafiz Qur’an beserta perumahannya. Belum lagi di berikan ke Perseroan Terbatas Perkebunan Nusantara (PT. PN) untuk menanam kelap hibrida”l.

” Sudah pastinya sebuah pencaplokan lahan warga, belum lagi mau di tambah bangun bangunannya lagi. padahal awalnya kami sudah menyurat tapi mereka menolak. Tambahnya, Muahammdiyah ambil lahan ini, alasannya apa?, sementara hasil konfirmasi ke pihak aset Provinsi Maluku lahan ini sudah di kembalikan ke Provinsi Malut” Tegasnya

Sementara Salah satu perwakikan warga keluarahan Fitu, Sahri Buang mengungkapkan, tanah yang di ambil ini, adalah tanah nenek moyangnya, apapun alasannya, mereka tetap mepertahankan sampai titik darah penghabisan.

“Dorang Muhammadiyah masuk tahun 2004, sedangkan lahan yang ada sebelum mereka menginjakkan kaki di Kota Ternate. Jadi mulai dari turun-temurun lahan ini tetap milik warga kelurahan Fitu. Kami berharap lahan ini segera di tarik kembali sebab bukan lahan mereka. Jika tuntutan kami tidak di indahkan pemerintah, kami akan mengambil suatu kebijakan sehingga lahan tetap di pertahankan sampai kapanpun” Tandasnya. (Kj)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *