HARI JADI KABUPATEN SULA BERDASARKAN PERKEMBANGAN SEJARAH PEMERINTAHAN DAERAH

  • Share

Oleh:
Dr. Syahril Muhammad. M.Hum
Ketua Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI) Cabang Maluku Utara

Ternate-TeropongMalut.com,

PENGANTAR
Adanya hari jadi bagi sebuah daerah baik setingkat provinsi atau kabupaten serta kota telah merupakan suatu keharusan di Indonesia akhir-akhir ini. Gejala yang mulai muncul pada dasawarsa 1970-an tampaknya masih akan tetap berlanjut, apalagi akhir-akhir ini-seiring dengan gerakan otonomi daerah berbagai provinsi/kabupaten dan kota semakin membutuhkan adanya hari jadi itu.

Hari jadi tidak hanya berarti sebagai suatu hari atau tanggal yang patut dikenang atau diperingati secara seremonial belaka, tetapi yang lebih penting dari itu adalah dijadikannya hari jadi tersebut sebagai patokan guna mengukur sejauh mana kemajuan yang dicapai oleh provinsi/kabupaten atau kota waktu ke waktu, bahkan ada daerah yang menjadikan hari jadinya sebagai bagian dari identitas dirinya serta bukti keberhasilannya “membebaskan diri dari” sesuatu yang tidak diharapkan.


Sejarah pencarian hari jadi provinsi/kabupaten dan juga kota di Indonesia dimulai dari usaha yang dirintis oleh daerah atau kota-kota besar di Pulau Jawa. Daerah Khusus Ibu kota Jakarta Raya dan Surabaya tercatat sebagai daerah dan kota yang pertama kali melakukannya. Upaya itu sudah dilakukan pada pertengahan dasawarsa 1970-an. Bila dibandingkan dengan apa yang telah dilakukan oleh Tidore dan Ternate, usaha yang dilakukan Kepulauan Sula, akhir-akhir ini yakni mengadakan penelusuran hari jadinya dirasa sudah relatif terlambat.

Namun, dengan merujuk kepada sebuah ungkapan yang sudah begitu populer di barat, “siapa yang menemukan paling akhir, itulah temuan yang terbaik” kita berharap bahwa penelusuran hari jadi kabupaten kepulauan Sula akan membuahkan hasil yang betul-betul memuaskan kita semua, sebab banyak pengalaman mencari hari jadi yang dimiliki provinsi, kabupaten dan kota sebelum ini yang bisa kita manfaatkan. Karena itu sebelum sampai pada diskusi hari jadi ada baiknya kita bicarakan dulu mengenai beberapa kecenderungan yang ada selama ini tentang pencarian hari jadi itu.

BEBERAPA KECENDERUNGAN PENCARIAN HARI JADI
Sampai hari ini terlihat beberapa kecenderungan yang dilakukan oleh beberapa provinsi, kabupaten dan kota untuk mencari hari jadinya.
Dari aspek temporal (waktu)
Terlihat adanya kecenderungan untuk mencari hari jadi pada waktu yang jauh di masa silam, dengan kata lain “makin tua makin, makin diminati”.


Dari aspek tematis (heroisme)
Dari aspek ini terlihat adanya kecenderungan untuk mengaitkan hari jadi daerah atau kota dengan peristiwa atau kejadian yang mengandung unsure heroisme, yaitu adanya semangat perlawanan fisik dari daerah atau kota (warga kota) yang bersangkutan terhadap kaum penjajah.


Dari aspek yuridis formal
Umumnya aspek ini dikaitkan dengan ketentuan politis atau surat keputusan kapan daerah (provinsi/kabupaten) atau kota tersebut diresmikian sebagai sebuah daerah (provinsi/kabupaten) atau kota berdasarkan produk hukum (Undang-undang) yang dibuat negara.


Kecendrungan pertama telah menjadi fenomena sejak tahun-tahun pertama sejarah pencarian hari jadi daerah/kota dilakukan, terutama pada tahun 1970-an, 1980-an, 1990-an dan 2020-an. Apa yang dilakukan oleh Surabaya,Yogyakarata, Jakarta dan Tidore serta Ternate, misalnya adalah contoh nyata dari kecenderungan yang pertama ini.


Kesemua kota itu telah berumur beratus-ratus tahun. Kecenderungan kedua juga lahir pada tahun-tahun pertama munculnya keinginan sejumlah daerah/kota mencari hari jadinya. Apa yang dilakukan Tidore dan Ternate misalnya adalah dua contoh yang paling nyata.

Ternate mengambil hari jadinya pada tanggal 29 Desember 1769 yang ditendai penyerbuan Babullah terhadap portugis yang didukung oleh penduduk beberapa wilayah di Maloku Kei Raha (Sekarang Maluku Utara) termasuk rakyat kepulauan Sula di bawah pimpinan Salahakan dari Sula. Serangan itu menimbulkan kerugian besar pada VOC dan hampir saja membuat VOC membatalkan niatnya menjadikan Maluko Kei Raha sebagai pusat kegiatan ekonomi, politik dan pemerintahannya.


Adanya kecenderungan untuk mencari hari jadi kota pada tahun-tahun yang jauh di masa lampau serta pada peristiwa-peristiwa heroik, sesungguhnya berkaitan erat dengan jiwa zaman (Zeitgeist) kapan pembuatan hari jadi kota itu dilaksanakan. Seperti yang telah disinggung di atas, sejarah pencarian hari jadi mulai menjadi fenomena dalam sejarah Indonesia sejak tahun 1970-an. Seperti kita ketahui, tahun-tahun 1970-an adalah dasawarsa pertama bangsa Indonesia mulai mengalami kestabilan politik. Kestabilan ini bisa terwujud karena adanya kontrol yang kuat dari aparat keamanan serta tindakan yang represif dari pemerintah.


Dengan kebijaksanaan dan sikap seperti ini gangguan-gangguan keamanan seperti yang terjadi di masa lampau, baik berupa gerakan daerah atau pemberontakan atas dasar ideologi relatif jarang terjadi. Tahun-tahun 1970-an adalah dekade pertama bagi bangsa Indonesia menikmati keberhasilan ekonomi yang cukup signifikan.

Keberhasilan ekonomi ini antara lain berhubungan dengan tingginya harga minyak dan karet di pasaran dunia serta masuknya investor asing dan mulai bangkitnya pengusaha nasional (khusus untuk yang kedua ini berhubungan erat dengan kebijaksaan pemerintah yang memberikan banyak kemudahan, bahkan berupa suntikan modal dan monopoli usaha).


Kestabilan politik dan adanya perbaikan ekonomi membutuhkan sarana untuk menjaganya. Salah satu sarana itu adalah kesamaan persepsi tentang identitas diri. Bila suatu kelompok masyarakat (atau suku bangsa dan bangsa) mempunyai kesamaan persepsi tentang dirinya (identitas dirinya), maka kestabilan politik akan lebih mudah dijaga dan dengan terjaganya kestabilan politik pertumbuhan ekonomi, sosial dan budaya akan bisa dipertahankan serta sekaligus bisa ditingkatkan.

Pengalaman masa lalu Indonesia membuktikan bahwa sejarah (maksudnya penulisan sejarah) bisa dipergunakan sebagai sarana bagi penyamaan persepsi tentang identitas diri suatu kelompok masyarakat atau bangsa Indonesia secara keseluruhan.


Tanpa bermaksud meniadakan arti dari usaha pemerintah kolonial, usaha menggunakan sejarah untuk menumbuhkan kesamaan persepsi atau pencarian identitas diri lewat sejarah telah dimulai oleh tokoh-tokoh Indonesia pada masa pergerakan.

Sejak tahun 1926 misalnya, Sukarno telah sering mengatakan bahwa bangsa Indonesia mempunyai sejarah yang sama. Pada mulanya bangsa Indonesia memiliki sejarah yang gemilang dan itu ditandai dengan adanya kerajaan-kerajaan di Maluku Utara, Islam yang besar. Kemudian setelah bangsa barat, terutama Belanda datang, Indonesia sama-sama memasuki zaman kegelapan yang penuh dengan penindasan.

Hari ini (era pergerakan) Indonesia sama-sama bangkit menuju gerbang emas kemerdekaan. Pemanfaatan sejarah sebagai bahan untuk mencari dan penumbuhan identitas juga dipergunakan Mohammad Yamin.

Yamin misalnya mengatakan bahwa sesungguhnya Indonesia telah pernah bersatu di masa lampau, yakni semasa jayanya Sriwijaya dan Majapahit. Penggunaan sejarah oleh Sukarno dan Moh. Yamin serta beberapa tokoh pergerakan lainnya telah dapat menyamakan pemahaman bangsa Indonesia akan dirinya.

Banyak ilmuwan asing yang mengakui “agitasi” tokoh-tokoh pergerakan dengan menggunakan sejarah tersebut terhunjam jauh ke lubuk hati bangsa Indonesia dan turut mempengaruhi kesediaan rakyatnya menerima Indonesia sebagai bangsanya.

Sebagai kelanjutannya, kesediaan itu akhirnya membuat mereka rela bekorban harta dan nyawa demi memperjuangkan kemerdekaannya.
Dari uraian di atas jelaslah bahwa sejarah telah digunakan untuk mencari dan menumbuhkan identitas. Karena itu ketika beberapa daerah/kota di Indonesia tahun 1970-an mulai mencari hari jadinya maka ingatan akan kejadian yang jauh di masa lampau dan kejadian itu bersifat heroik segera menjadi tumpuan.


Mengapa pilihan jatuh pada kejadian yang jauh di masa silam dan mengapa pula pada peristiwa yang heroik? Dilihat dari kacamata ilmu sejarah, penelitian dan penulisan sejarah hari jadi daerah/kota seperti yang dikatakan di atas dapat dikatakan sebagai bagian dari sejarah konvensional. Sejarah konvensional memang cenderung mengambil batasan temporalnya pada kurun waktu yang jauh di masa silam dan cenderung membahas peristiwa-peristiwa besar yang bersifat heroik. Mengambil batasan waktu jauh ke masa silam berarti daerah atau kota tersebut telah lama umurnya (tua).

Dalam masyarakat kita terdapat kepercayaan bahwa sesuatu yang tua berarti penuh kedewasaan, kearifan dan kematangan. Mengambil peristiwa heroic sebagai tonggak awal sejarah daerah/kota mengandung makna bahwa daerah/kota (warga kota) tersebut adalah orang-orang yang mau dan rela berkorban untuk kemajuan bangsa dan kotanya.


Tahun 1990-an kecenderungan mencari hari jadi ke masa-masa yang jauh di waktu lampau mulai ditinggalkan. Beberapa daerah/kota yang mencari hari jadinya pada dasawarsa itu memilih tanggal yang relatif tidak begitu jauh di masa lampau. Perubahan ini sebetulnya terjadi karena daerah-daerah/kota-kota yang mencari hari jadinya pada era 1990-an adalah daerah-daerah/kota-kota yang relatif kecil serta tidak memiliki “beban sejarah” yang berat.


Dari kacamata ilmu sejarah, perubahan itu juga seiring dengan perkembangan kontemporer ilmu sejarah yang lebih cenderung mengkaji waktu yang tidak begitu jauh di masa silam serta aspek sejarah yang lebih bisa dibuktikan secara empiris. Dalam suasana seperti inilah kita melakukan penelusuran mencari hari jadi Kepulauan Sula.


Pembahasan pencarian hari jadi Kepulauan Sula pada penelusuran sumber-sumber sejarah. Maksudnya, ingin mendiskusikan hari jadi Kabupaten Kepulauan Sula berdasarkan bukti-bukti empiris kapan daerah ini dibentuk sebagai sebuah unit administrative tingkat afdeeling, meliputi hampir semua wilayah yang dewasa ini menjadi bagian dari Kabupaten Kepulauan Sula, dan kalau bisa tentu berhubungan pula dengan adanya peristiwa heroik yang terjadi di daerah ini.

Sebelum masuk kepada suatu rumusan/tawaran teradap hari tertentu pada bagian berikut ini akan menampilkan perjalanan sejarah Kepulauan Sula sebagai sebuah daerah afdeeling terlebih dahulu. Penyamaan persepsi dan pengetahuan ini perlu dilakukan melalui kajian sejarah social, ekonomi dan politik.

LINTASAN HISTORIS KABUPATEN KEPULAUAN SULA
Kabupaten Kepulauan Sula  adalah salah satu kabupaten di provinsi Maluku Utara, Indonesia. Kabupaten Kepulauan Sula dengan ibu kota Sanana terletak paling Selatan di wilayah Provinsi Maluku Utara. Jarak dari Kota Ternate, ibu kota provinsi sekitar 284 km dapat ditempuh melalui penerbangan udara dan pelayaran laut.

Kabupaten Kepulauan Sula pada awalnya menjadi bagian dari Kabupaten Halmahera Barat, bersama-sama dengan Kabupaten Halmahera Utara dan Kabupaten Halmahera Selatan.


Sebelum kerajaan Ternate menduduki Sula sitem pemerintahannya berbentuk kesatuan sosial yang bersifat organisasi masyarakat desa, dengan kepala pemerintahannya bergelar kepala soa dan sekaligus merupakan panglima perang.

Sula sendiri adalah nama yang diberikan oleh sultan Babullah yang berarti menara atau tiang panjang, setelah melihat kondisi kepulauan yang datar atau rata.


Penamaan ini pertama kali dilakukan saat ekspansi kekuasaan Sultan Ternate yang terjadi hingga kepulauan sula 1575. Di bawah kepemimpinan Sultan Babullah ekspansi ini juga menjadikan sistem pemerintahan di Kepulauan Sula mengalami perubahan. Kepulauan Sula kemudian dipimpin oleh seorang Salahakan, dimana menjalankan pemerintahan dibantu oleh Sangaji-Sangaji dari 4 (empat) yalai terbesar di sula . Baik salahkan maupun Sangaji – Sangji semuanya dipilih dan diangkat atas prsetujuan Sultan.

Ke-4 Suku Yafai yaitu Yafai Fatce ,Yafai Fagudu ,Yafai Faahu dan Yafai Mangon .Yafai Fatce menempati wilayah barat pulau Sula Besi , bagian selatan di tempati Yafai Fagud dan bagian utara oleh Yafai Faahu.

Sedangkan di Bagian timur ditempati Yafai Mangon. Pada wilayah-wilaya ini mereka hidup berpencar Dan di pegunungan maupan di pesisir pantai dengan beberapa keluarga berdasar kepala soa-soa tertentu. Mereka kemudian dikenal dengan nama Matapia sua atau orang sula yang didalamnya termasuk masyarakat Fogi, yang waktu itu masih mendiami daerah pegunungan.

KOLONIALBELANDA


Masuknya belanda pada tahun 1909, maka kepulauan Sula dijadikan Order Afdeeling dengan kepala pemerintahannya disebut Controler dan berkedudukan di Sanana. Berdirinya Onder Afdeeling dengan sendirinya mengahiri kekuasaan salahakan beserta Sangaji-Sangaji. Belanda kemudian membangun distrik-distrik yang diantaranya distrik Sanana, distrik Pas Ipa, distrik Kawalo, sedangkan fogi masuk kedalam distrik Sanana.


Guna menghindari perpecahan di tengah masyarakat akibat politik devide et impers yang sering diterapkan oleh Belanda. Maka timbullah keinginan untuk menyatukan diri dalam satu kesatuan wilayah. Melalui masyarakat, kepala-kepala sukunya tahun 1911 dan menyampaikan kepada Sultan dan Controller Belanda, maka disepakati bahwa kesatuan wilayah Yafai tersebut di akui dan diberikan status hukum (semacam desa) sebagai suatu kesatuan masyarakat hukum adat.

PERJUANGAN MASYARAKAT SULA DAN HPMS DARI MASA KE MASA
Setelah kemerdekaan pemerintahan Indonesia kemudian merubah distrik-distrik tersebut menjadi kecamatan yaitu Kecamatan Sanana, Kecamatan Taliabu timur, dan Kecamatan Taliabu Barat. Yafai Fogi sandiri masuk kedalam wilayah Kecamatan Sanana setelah penduduknya pindah dari daerah pegunungan kedaerah pesisir pada tahun 1946.

Proses yang panjang dan melelahkan menyertai pembentukan Kabupaten Kepulauan Sula berawal dari diutusnya dua orang putra sula yakni; H. Adam Yoisangadji (Alm) dan Yusuf Mayau (Alm) guna menghadap dan meminta presiden sukarno untuk dapat berkunjung ke kepulauan sula, setelah dalam kunjungan sebelumnya di tahun 1954 ke kabupaten Maluku utara hanya pulau Sula yang tidak dikujungi oleh Presiden Sukarno namun Presiden Sukarno berhalangan dan mengutu Wakil Presiden Drs. Muhammad Hatta ke Kepulauan Sula.


Saat Indonesia dalam kondisi tidak menentu tahun 1957 akibat pemberontakan di sana-sini guna memerdekakan diri dari republik. Masyarakat Maluku Utara tetap menuntut adanya pembentukan Maluku Utara menjadi daerah tingkat I beserta daerah-daerah tingkat I lainnya di Maluku Utara termasuk Kepulauan Sula perjuangan yang juga membutuhkan pengorbanan ini dimana tokoh politik dan aktivis pemekaran harus rela ditangkap dan diasingkan dipulau Nusakembangan.


Meskipun selalu kandas momentum-momentum perjuangan masyarakat Sula terus berlanjut diantaranya: pertama saat diadakan resolusi rakyat Kepulauan Sula tanggal 28 Desember 1971 yang memberi mandat kepada HPMS untuk menindaklanjuti resulusi tuntutan pembentukan Kabupaten Kepulauan Sula. kedua saat Bupati Maluku Utara Abbdullah Assagaf bersama DPRD Maluku Utara mengajukan proposal ke Gubernur Maluku mengenai rencana pemekaran kabupaten termasuk di antaranya Kabupaten Kepulauan Sula
Melalui rekomendasi yang dikeluarkan DPRD Kabupaten Maluku Utara dan DPRD provinsi Maluku Utara dan pembahasan yang di lakukan hingga di tingkat komisi II DPR RI.

Maka akhirnya melalui sidang paripurna DPR RI tanggal 27 Januari 2003, DPR RI mengesahkan undang-undang pembentukan 25 kabupaten kota di 10 provinsi termasuk termasuk didalamnya Kabupaten Kepulauan Sula.
Fort De Verwachting atau dikenal juga dengan nama Benteng Alting atau Benteng Sanana adalah sebuah benteng pertahanan peninggalan Kolonial Hindia Belanda. Sejarah benteng ini diperkirakan bermula dari tahun 1623 ketika Kerajaan Ternate membuat sebuah benteng kecil dengan nama Het Klaverblad.


Benteng De Verwacthing yakni salah satu wisata sejarah yang patut Anda kunjungi ketika berada di Kepulauan Sula. Benteng ini berada di kelurahan Sanana, kecamatan Sanana Utara, Pulau Sulabesi, Kabupaten Kepulauan Sula, Provinsi Maluku Utara. Benteng ini berada sempurna di depan pelabuhan Sanana yang berada di sentra kota. 


Benteng De Verwacthing mempunyai luas 2.750 meter persegi dengan 4 bastion dan 2 menara pengintai. Tinggi dinding benteng kurang lebih 4 meter. Terdapat dua bangunan penunjang yang ada di dalam benteng tersebut yang ketika ini dipakai sebagai Kantor Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Kepulauan Sula. Kondisi benteng ketika ini sudah direnovasi dan karenanya menyerupai yang sanggup Anda lihat di foto dibawah ini. 


Pada tahun 1623, warga Ternate diperkirakan membangun satu benteng kecil yang dikenal dengan nama Het Klaverblad. Namun, Gres pada tahun 1688 ada catatan sejarah wacana benteng Het Klaverblad yang letaknya di Kepulauan Sulu, tepatnya di Pulau Sanana.


Kemudian pada 24 Desember 1736, yaitu masa pemerintahan Amir Iskandar Zulkarnain Saifuddin (1714-1751), benteng kecil Het Klaverblad diperbaharui dan lalu diberi nama De Verwachting. Amir Iskandar Zulkarnain Saifuddin – putra tertua Rotterdam dari istri keempatnya, Sayira yakni Sultan Ternate ke-14. Amir Iskandar Zulkarnain Saifuddin lahir di Ternate pada 1680 dan lebih dikenal dengan nama Raja Laut, yang diberikan ayahnya. Ia juga dikenal dengan nama Kaicil Sehe.


Pemugaran benteng tersebut berada di bawah pengawasan seorang opsir VOC, Victor Moll. Pemugaran ini memanfaatkan tenaga orang-orang Ternate, yang lalu mereka memahat dinding benteng tersebut dengan hiasan-hiasan bercirikan khas Ternate.


Tulisan-tulisan pada gerbang dan dinding benteng juga dalam bahasa Melayu. Pada tahun 1790-an, catatan sejarah VOC di simpulan kala ke-18 menyebut benteng ini sebagai benteng Alting, berdasarkan nama seorang wali VOC yang memegang tampuk pimpinan antara 1780-1797.


Apa Pentingnya Mengetahui Tanggal Hari Jadi Sebuah Kabupaten ?
Mungkin adalah sebuah pertanyaan yang sangat klise, sehingga dengan mudah akan mengundang beragam jawaban, mulai dari yang paling sederhana hingga yang paling serius, dari yang paling konyol hingga yang paling masuk akal. Itu adalah sebuah persepsi yang kemungkinannya mungkin tidak terbatas.
Sebagaimana dijelaskan pada pasal-pasal Peraturan Daerah tentang Kepulaun Sula dimaksud, bahwa hari ulang tahun yang merupakan peringatan hari jadi Kabupaten Kepulauan Sula merupakan kegiatan mengingat kembali eksistensi Kabupaten Kepulauan Sula pada masa lalu dan masa kini untuk meraih kemajuan pada masa akan datang.

Hari jadi adalah sebuah momentum bersejarah yang menjadi peringatan hari kelahiran bagi masyarakat daerah, dan untuk menambah rasa memiliki demi kemajuan masyarakat dan pemerintah daerah.


Hari jadi kepulauan Sula bila berhasil dibentuk, maka menjadi spirit baru untuk perubahan Kabupaten Sula kearah yang lebih baik, khusunya dalam hal kesejahteraan dan kemakmuran rakyat. mengingat hari ulang kabupaten kepulauan Sula yang ke-16 adalah merupakan perayaan awal dari perubahan hari jadi sebelumnya.


Berdasarkan uraian cerita sejarah tentang dibangunnya benteng Fort De Verwachting tahun 1790 sebagai pertahanan peninggalan Kolonial Hindia Belanda. Sejarah benteng ini diperkirakan bermula dari tahun 1623 ketika Kerajaan Ternate membuat sebuah benteng kecil dengan nama Het Klaverblad.


Atas dasar penelusuran tahun awal perkembangan masyarakat kepulauan Sula, berkaitan dengan perkembangan sosial, ekonomi, politik dan pemerintahan kolonial pada kerajaan-kerajaan Maloku Kie Raha abad-18, dapat memberi petunjuk untuk menelusuri penetapan hari jadi Kepulauan Sula. Dari sumber-sumber sejarah ini dapat didiskusikan berlanjut pada rencana kegiatan penelusuran hari jadi Kabupaten Kepulaua Sula yang akan datang.(Selesai)
  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *