Slider

Jafar Hamisi Dinilai Diami Masalah Kepala Sekolah Bermasalah SMA-N 29 Halsel

Halsel | Teropongmalut.com, Terkait penolakan kepala sekolah Baru Aswia A. Mutalib yang dinilai sangat bermasalah dan berujung pada tindakan aksi protes guru-guru dan siswa serta alumni SMA-N 29 Halsel hingga terjadi pemogokan proses belajar mengajar sampai sekarang belum ada sikap tegas yang di ambil Dinas Kebudayaan Provinsi Maluku Utara.

Guru Kesiswan SMA-N 29, Fadli Abdullah ditemui Teropongmalut. com diruang kerjanya, Senin (11/11) menerangakan, kepemimpinan untuk memimpin sekolah siapa saja bisa, asalkan guru itu, tidak pernah berbuat masalah-masalah serius yang pernah dilakukan sebelum-sebelumnya yang merugikan sekolah.

“Rekam jejak Aswia A. Mutalib itu kurang baik, makanya wajar saja kami, siswa-siswi dan alumni melakukan tindakan penolakan dan pemalangan pintu kantor kepala sekolah. Andaikan Aswia A. Mutalib punya masalalu kepemimpinan yang bagus, sudah tentunya sekolah ini bisa menerimanya dengan baik. Kami berharap masalah ini, secepatnya dibijaki oleh Dikbud Provinsi kalau tidak akan dapat merugikan sekolah, apalagi dalam waktu dekat ini sekolah menghadapi Ujian” Terangnya

Presidium alumni SMA-N 29 Halsel Iksan Muhammad kepada awak media menegaskan, walaupun Aswia Mutalib di tugaskan Dikbud Provinsi tapi ini mlenceng jauh dari apa yang sudah di atur dalam Udang-undang no 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional yang mengisyaratkan menjadi guru yang berprofesional, karena sebelumnya Aswia sudah melakukan pelanggaran sebagai seorang pendidik di SMA-N 32 Halsel” Tegasnya

“Kami meminta Dikbud jangan diam dan pura-pura tuli melihat persoalan ini. Dilihat dari administrasi penempatan Aswia menjadi Kepala sekolah SMA-N 29 oleh Kadis Dikbud Provinsi Jafar Hamisi tidak melalui jalur dan mekanisme yang ada. Bahkan legalitas Aswia pun tidak melalui koordinasi Rustam Panjab selaku Kabid Pembinaan SMA dan Sekretaris daerah. Padahal aturan untuk mengantikan kepala sekolah itu harus melalui prosedur, bukan kadis Dikbud yang masih berstatus PLT mem PLT kan guru menjadi kepala sekolah dan ini bisa dibilang salah aturan mainnya” Tegasnya

Terpisah, Sekretaris Dikbud Provinsi Malut, Saat dikonfirmasin awak media lewat telpon selulernya, mebenarkan pergantian guru kepala sekolah yang sebelumnya dipimpin Suaib Hi. Umar dan digantikan Nasrun Rahman yang di SK kan langsung kepala Dikbud provinsi defenitif Imran Jakub pada waktu itu sudah betul dan tuduhan mengenai dirinya bukan pegawai Provinsi itupun tidak benar

“Saya sudah cek data bes, tapi memang betul dia itu pegawai Provinsi. Untuk kepala sekolah Aswia A. Mutalib yang di PLT kadis Dikbud Jafar Himisi yang masih berstatus PLT sekarang itu bermasalah dan bisa dikatakan tidak sah legalitasanya. Dilihat dari status Kadis Dikbud inikan masih PLT dan ini berarti tidak bisa mem PLT kan guru menjadi kepala sekolah. Bahkan Aswia itu pernah dinonjobkan sebab bermasalah besar di SMA-32 Halsel dengan catatan tidak pernah masuk sekolah selama 8 bulan dan penyalahgunaan DAK 2018” Jelasnya

Ia pun menjelaskan, bisa ada pergantian tapi hingga sampai sekarang tidak tauh alasanya apa. Bahkan jalur pergantiannyapun tidak melalui persetujuan Sekretaris daerah (Sekda) dan ini sangat melenceng jauh dari jalur adminstrasi. Sekarang posisi sekolah ada 2 kepala sekolah dan ini akan dikembalikan ke Kepala Dikbud untuk mengambil sikap untuk menyelesaikan dualisme kepemimpinan ini. (KJ)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *