Slider
124 views

Kesultanan Tidore Dimata Orang Papua Bukan Penjajah

Tidore-Teropongmalut.com, Jika kita bicara soal Papua, itu sama artinya bicara tentang Kesultanan Tidore, Papua punya hubungan yang sangat erat sekali dengan Tidore dan itu dimuat dalam lembaran sejarah kesultanan. Hubungan Papua dan Tidore tersebut dirajut sebelum negara indonesia didirikan. Selain itu pengakuan Tidore dan Papua juga diketahui oleh dunia.

Sekalipun Papua pernah dibawah terotorial kekuasaan Kesultanan, tak ada sedikitpun secuil cerita nestapa antara kesultanan Tidore bersama Papua. Demikian diungkapkan Anggota Senator asal Papua Barat, Mamberob Rumakiek saat ditemui Jurnalis Teropong Timur di lobby Said Hotel, Kamis, (19/11)

Dia menegaskan, Hubungan Papua dengan Sultan Tidore walaupun Papua didaulat bagian dari Kesultanan, tak ada artikel sejarah manapun yang menuliskan, bahwa Tidore pernah menjajah atau melakukan agresi militer terhadap masyarakat Papua, kuatnya hubungan Tidore dan Papua itu terbukti dengan adanya interaksi sosial, khususnya orang-orang Papua, terlebih lagi masyarakat yang mendiami dipesisir pantai, seperti halnya Biak dan juga Raja Ampat tersebut.” Ucap Senator Asal Papua Barat.

Lebih jauh, ia juga berkeyakinan bahwasanya masyarakat yang menempati daerah Raja Ampat sesungguhnya adalah masyarakat yang berasal dari Suku Biak, Keyakinan itu diperkuat dengan beragam literasi.
Lajut kata dia, Sekilas jika dicermati memang sudah terjalin ratusan tahun hubungan Papua dengan Kesultanan Tidore itu rajut.

Sementara dalam sejarah lisan yang diketahui, memaparkan bahwa pada abad XV daerah Biak telah menjadi wilayah Kesultanan Tidore. Sultan Tidore pernah mengangkat Pejabat daerah tersebut, dengan beragam gelar-gelar seperti Kapitan, Sangaji, Korano, Dimara, Mayor.

Bahkan katanya, salah satu Tokoh asal Biak Kurabesi namanya, dia diangkat sebagai panglima di Pusat Kesultanan Tidore. Dan konon kemunculan Gurabesi ada tarikannhya dengan asal usul Raja Ampat.

Menurutnya, berkembangnya masyarakat Biak di wilayah Raja Ampat dan juga dibeberapa tempat di Provinsi Maluku Utara hingga sekarang, kemungkinan besar peristiwa tersebut dipengaruhi juga oleh faktor Geografis yang menghubungkan Tidore dan Pulau Biak.

“Rentang jarak yang jauh antara Kesultaan Tidore dan Pulau Biak mengharuskan orang-orang Biak harus mendiami Raja Ampat dan beberapa daerah di Maluku Utara, keputusan itu diambil, menurut padangannya, itu dilandaskan lantaran, bentangan jarak yang jauh antara Biak dan Tidore, Selain rentang jarak yang jauh, langkah yang diputuskan orang Biak untuk mendiami Raja Ampat juga disebakan sejumlah faktor, salah satunya untuk merawat ikatan Tidore dan Papua.”Ujarnya.

Sejauh dia ketahui, bergenarasinya orang Biak dengan jumlah populasi besar menempati di Kabupaten Raja Ampat, mulanya raja Ampat hanyalah sekedar tempat transit bagi orang-orang Biak, ketika hendak mau melaut atau berkunjung menyambangi Kesultanan Tidore kala itu, bertolak dengan alasan itupula juga cikal bakal suku Biak mulai mendiami Raja Ampat.

Tujuan Digelarnya FGD yang digelar di Kadato Kie Kesultanan Tidore, Rabu (18/11/2020)menurut Senator Papua yang juga vokal di kompek parlemen itu. selain untuk menjaga serta melestarikan nilai-nilai kearifan lokal yang selama ini terjalin antara masyarakat Tidore dan Papua, digelrnya FGD juga bertujuan melihat cara Sultan Tidore memimpin Papua kala itu.

Dimana menurutnya, semasa itu, Sultan Tidore tidak pernah memberlakuan kekerasan terhadap masyarakat Papua, hal ini yang harusnya dilakukan untuk menyelesaikan masalah Papua, lajut kata dia, Papua itu masyarakat adat sehingga harus menggunakan pendekatan sosial kemasyarakatan, untuk itulah DPD RI memulai dialog di Tidore ini sebagai langkah awal untuk melihat Papua dan Tidore kedepan.(Mad/red)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *