Lelang Jabatan Kepala Sekolah: Solusi atau Imajinasi

  • Share

Halsel-TeropongMalut.com, Beberapa minggu ini isu mengenai lelang jabatan kepala sekolah di lingkungan Kabupaten Halmahera Selatan kembali menguat. Hal ini dikemukakan oleh seorang pemerhati Pendidikan Ady Saputera Wansa pada Kamis, 14/10/2021.

Menurut Ady panggilan akrab Ady Saputera Wansa, ide lelang kepala sekolah sebenarnya bukan hal yang baru, mengingat pada masa kepemimpinan Iswan Hasjim sebagai kepala dinas pendidikan di Kabupaten Halmahera Selatan, lelang kepala sekolah ini telah pernah dilakukan. Bahkan, pada masa itu tidak tanggung-tanggung ide pergantian kepsek dengan cara dilelang itu dilakukan disemua jenjang, SD, SMP, dan SMA.

Dimasa itu, ide dan kegiatannya tidak hanya menyasar sekolah dalam kota semata, tapi juga semua sekolah negeri yang ada di lingkup kerja Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Hamahera Selatan. Lantas bagaimana hasilnya?

Kepada awak media Ady katakan, kalau dalam istilah anak milenials sekarang, disebut “prank”. Kegiatan yang tidak mengeluarkan biaya yang sedikit, menghadirkan pelatih independen dari pusat tersebut, dan diikuti oleh sekitar 100an lebih peserta dari level SD, SMP dan SMA, akhirnya hampir sebagian besar peserta yang bukan kepala sekolah itu, tetap tidak mendapatkan tawaran menjadi kepala sekolah pada waktu itu.

“Pada masa pak Iswan, sekitar 7 tahun yang lalu, peserta yang bukan kepala sekolah dalam kegiatan dimaksud sebagian besar tidak mendapatkan tawaran menjadi kepala sekolah, padahal kegiatan waktu itu menjanjikan” tukas Ady.

Dimasa sekarang, ide tentang lelang kepala sekolah ini kembali dimunculkan. Apakah kali ini peserta akan kembali mendapatkan “prank” atau mereka benar-benar mendapatkan posisi tersebut tanpa harus terusir dari posisinya karena dirasa kurang dekat secara politis atau tidak memiliki orang dalam. Pertanyaan ini disampaikan Ady untuk ditanyakan, karena menurutnya ini masuk akal, mengingat kita pernah memiliki ide serupa sebelumnya.

Lanjut Ady, sejatinya lelang itu sendiri adalah upaya untuk mendapatkan ASN yang tepat untuk menduduki posisi yang tepat juga, “right man in the right place” Hal ini harus segera dilakukan oleh pihak pemerintah kabupaten Halmahera Selatan yang memiliki konsep smart city. Karena tentu konsep smart city ini tidak hanya terbatas pada keterbukaan informasi melalui aplikasi semata. Tapi smart city ini harus juga didukung oleh smart citizen.

Pada kesempatan itu Ady juga sampaikan bahwa, sekolah-sekolah yang ada di kota kabupaten adalah etalase bagi orang luar untuk melihat konsep smart city ini juga didukung oleh smart people atau tidak.
Dukungan adanya smart people terhadap konsep smart city ini harus kita jadikan pegangan mendasar dalam ide melakukan lelang jabatan kepala sekolah ini. Karena kita jangan abai dengan beberapa temuan yang dimiliki oleh para guru Indonesia Mandiri, dan mantan Bupati Halmahera Selatan periode yang lalu. Bahwa masih banyak di Halmahera Selatan, siswa-siswi sekolah dasar yang tidak tuntas CALISTUNG (membaca, menulis dan menghitung).

Ironinya, Ady katakan hal ini tidak hanya terjadi di sekolah-sekolah yang ada di pelosok. Tidak hanya di kelas-kelas bawah (1,2 dan 3) tapi ketidak tuntasan ini juga terjadi di kelas-kelas atas (4, 5 dan 6). Dan juga di sekolah dalam kota.

“Kalau kita mengaca pada buku Indeks Aktivitas Literasi membaca atau Alibaca tingkat provinsi yang di keluarkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan atau Kemendikbud pada Mei tahun 2019 lalu. Maluku Utara berada di peringkat 29 secara nasional dengan skor 31,33. Kita masih kalah dengan Maluku yang berada di posisi 24 dengan skor 33.52.” imbuh Ady

Penilaian ini didasarkan pada 4 aspek; kecakapan (proficiency), akses (access), alternatif (alternatives), budaya (culture).

Disatu sisi upaya meningkatkan literasi ini berbanding lurus dengan kemampuan membaca. Hal ini serupa dengan pandangan Fuad Hasan (dalam Sutarno, 2003) mengatakan bahwa upaya untuk meningkatkan ‘minat baca’ masyarakat harus berpijak dari adanya ‘kemampuan membaca’. Apabila masih ditemukan siswa yang masih kesulitan atau tidak bisa membaca, maka bukan hanya hal ini menyumbang pada rendahnya tingkat literasi tapi tentu materi dalam kurikulum juga tidak bisa dituntaskan.

“Kalau ada siswa yang naik kelas, meski tak bisa membaca, pertanyaan sederhananya adalah siapa yang mengerjakan soal-soalnya?. Dengan kondisi seperti ini” jelas Ady

Sebenarnya ide lelang jabatan kepala sekolah yang direncanakan oleh Safiun Radjulan, S. Pd., M. Si selaku kepala dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Halmahera Selatan adalah kebutuhan mendesak dan harus segera dilakukan ucap Ady. Agar tidak ada tumpukan incompeten generation pada kelas atau level pendidikan yang lebih tinggi lagi.

“Kalau berkaca pada hal tersebut, jangankan untuk melek digital, seperti yang beliau wacanakan. Bisa menuntaskan baca saja oleh para calon-calon kepala sekolah hasil lelang jabatan kelak, sudah merupaka prestasi yang cukup membanggakan” tutur Ady.

Ady menambahkan, pada akhirnya kompleksitas permasalahan pedidikan kita di Halmahera Selatan, niatan dari kepala dinas pendidikan dan kebudayaan yang baru ini patut kita acungi jempol. Tapi disatu sisi, agar program ini bisa terwujud dan tidak hanya sebatas imajinasi dan halusinasi.

” Perlu ada pembisik yang berani disekitar beliau. Karena sudah cukup lama, kita di Halmahera Selatan, menantikan perubahan real dalam peningkatan kualitas pendidikan. Saya salut dengan Pak Safiun” pungkas Ady pemerhati pendidikan sekaligus pendiri Wansa School. (Mursal/red)

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *