Penulis : Odhe Isma
Editor : Redaktur
Ketika lonceng dibunyikan untuk memanggil umat Nasrani ke gereja, terompet ditiup sebagai tanda panggilan ibadah kaum Yahudi, dan api dinyalakan sebagai ritual kaum Majusi, umat Islam memiliki adzan yang merdu sebagai panggilan suci menuju masjid. Namun, ironisnya, pada malam tahun baru, ketiga simbol ritual tersebut—lonceng, terompet, dan kembang api—justru dipakai secara bersamaan oleh sebagian umat Islam untuk merayakan pergantian tahun.
Malam tahun baru menjadi momen di mana identitas umat semakin kabur. Perayaan dengan bunyi lonceng, tiupan terompet, dan gemuruh kembang api seperti mengadopsi kebiasaan dan tradisi non-Islam tanpa disadari. Fenomena ini selaras dengan sabda Rasulullah SAW yang memperingatkan, “Kalian benar-benar akan mengikuti tradisi orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta…” Ketika ditanya apakah yang dimaksud adalah Yahudi dan Nasrani, Rasulullah menjawab, “Siapa lagi kalau bukan mereka?” (HR. Muslim).
Tradisi tahun baru seolah menjadi cermin akan lemahnya kesadaran terhadap prinsip Islam. Dalam kebisingan perayaan tersebut, nilai-nilai Islam tentang introspeksi dan penguatan iman kerap tersisihkan. Saat umat terbuai dengan tradisi yang asing, mereka perlahan kehilangan jati diri dan semangat untuk menegakkan syiar agama.
Sudah saatnya umat Islam merenungi kembali makna tradisi dan perayaan yang mereka ikuti. Adakah perayaan tersebut membawa keberkahan atau justru menjauhkan diri dari jalan kebenaran? Identitas Islam harus dijaga, bukan justru larut dalam simbol-simbol yang mengikis nilai tauhid. Jangan sampai umat ini menjadi umat yang kehilangan arah karena mengadopsi kebiasaan yang tidak berasal dari agama mereka.
Catatan: Tulisan ini bertujuan untuk mengingatkan dan mengajak umat Islam menjaga keaslian tradisi dan identitas Islam di tengah arus globalisasi budaya.***














