Tanda-Tanda Zaman Mengguncang, Kita Terlalu Tenang Saat Peringatan Semakin Nyaring

Oleh : Farid Amir

Editor : Odhe Isma

Gelombang kegelisahan moral kembali menyeruak di tengah masyarakat. Serangkaian gejala sosial yang kerap disebut dalam literatur keagamaan sebagai “tanda-tanda akhir zaman” kini terasa kian nyata. Meski berada di ranah keyakinan, pesan moral yang terkandung di dalamnya tak bisa diabaikan begitu saja.

Rasa hormat kepada orang tua merosot tajam, sebagian anak memperlakukan mereka tak lebih dari pembantu rumah. Ilmu perlahan memudar seiring wafatnya para ulama dan hilangnya rujukan kebijaksanaan. Pembunuhan berlangsung seolah tanpa alasan, seakan nyawa manusia tak lagi memiliki nilai. Zina dipertontonkan tanpa malu, bahkan dikemas sebagai hiburan. Musik menguasai ruang hidup dan membentuk generasi yang mudah terbius gemerlap dunia.

Masjid-masjid menjulang megah, tetapi sering hanya menjadi simbol gengsi, bukan pusat penghayatan ruhani. Waktu kehilangan keberkahannya sehari terasa singkat, produktivitas merosot, dan manusia berlari tanpa arah. Amanah justru jatuh ke tangan mereka yang tak layak, sementara figur-figur yang jauh dari nilai-nilai agama malah dielu-elukan sebagai panutan.

Di tengah semua itu, gempa dan bencana lain terus mengguncang, seakan bumi memberi isyarat bahwa ia pun mulai letih.

Ini bukan sekadar rangkaian kebetulan. Ini cermin keras yang memaksa kita menatap wajah kita sendiri sebagai masyarakat. Peringatan telah lama disampaikan, namun kita tetap berjalan seolah waktu tak pernah mendekat. Pertanyaannya, sampai kapan kita terus abai? ****

IMG-20260420-WA0020
previous arrow
next arrow
IMG-20260423-WA0117
previous arrow
next arrow
images - 2026-04-22T235051.720
previous arrow
next arrow
FB_IMG_1776869755543
previous arrow
next arrow

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *