Oleh: Diana Anggraeni
Pemerhati Lingkungan
TeropongMalut.com, Beberapa waktu lalu, banjir melanda kota jakarta dan beberapa kota besar lainnya, Pada awal Januari. Banjir bukan hal yang baru terjadi di wilayah perkotaan besar, bencana ini sudah terjadi berulang kali dari tahun ke tahun. Dampak yang ditimbulkan akibat banjir pun tidak sedikit, mulai dari kerugian materi, aktivitas yang terhambat bahkan sampai ke sektor ekonomi dan pendidikan yang juga terhambat. Kondisi ini memperlihatkan Banjir menjadi masalah yang harus ditangani dengan serius. Menanggapi bencana ini, pemerintah mengatakan bahwa banjir terjadi karena tingginya curah hujan, dan dalam menangani bencana ini pemerintah akan melakukan modifikasi cuaca dan 3sungai untuk mencegah resiko banjir.Namun bencana ini bukan semata mata diperbaiki secara fisiknya tetapi harus menyelesaikan apa yang menjadi akar masalah sesungguhnya.
Mengapa banjir terus terjadi
Banjir yang terjadi di jakarta dan perkotaan besar adalah problem yang sudah lama dan struktural. Penyebab utama banjir bukan semata mata curah hujan yang tinggi, akan tetapi pengelolaan tata ruang yang keliru. Yang kita ketahui kota pembangunan yang tidak direncanakan dengan baik, yang membuat ruang terbuka hijau hilang, sehingga daerah resapan air hilang. Selain itu, pengawasan terhadap alih fungsi lahan juga lemah yang Memperparah lingkungan perkotaan. Ini terjadi karena pragdigama pembangunan yang berorientasi pada keuntungan bisnis,yang sering kali mengabaikan dampak lingkungan.
Akibatnya ketika hujan turun, air tidak menyerap dan menyebabkan banjir. Disisi lain solusi yang pemerintah tawarkan cenderung bersifat tenknis dan umum, tanpa menyentuh akar masalahnya. Sistem kapitalisme yang asasnya manfaat membuat pemerintah memandang persoalan lingkungan dan tata kelola ruang sebatas keuntungan saja, tidak melihat mudarat bagi Ummat, bukan persoalan pemimpin tetapi sistemnya yang sudah cacat dari awal. Kebijakan dan pandang mereka tidak memperhatikan masalah orang banyak.
Bagaimana Islam memandang
Berbeda dengan kapitalisme, dalam Islam,tata kelola ruang tidak dipandang dengan pradigma bisnis, tetapi pada kemaslahtan Ummat. Pembangunan juga dilakukan untuk menjalankan amanah bukan untuk bisnis. Kebijakan dan hukum yang ada dalam Islam harus berdasarkan dari Allah. Dan ini sudah dibuktikan dalam masa Islam pada masa lalu, masa khalifah Abbasiyah, sistem kanal yang luas untuk mengendalikan banjir dan mengalirkan air berlebih ke wilayah pertanian, contohnya penggalian kanal disekitar Basra untuk mengatur aliran air dari Shatt al-Arab.
Dengan demikian, banjir bukan sekedar masalah umum tetapi akibat dari diterapkannya sistem kapitalisme yang bermasalah sejak awal, dan tidak cukup dengan memperbaiki masalah umum tetapi harus pada akarnya. Selama kita tetap berada dalam sistem kapitalisme masalah ini akan terus terjadi. Sudah saatnya kita Ummat muslim kembali pada agama Allah (Islam) secara kaffah serta menerapkan hukumnya, agar masalah ini tidak terulang lagi. (Selesai)










