Morotai, Teropong Malut – Di tengah riuhnya isu konflik yang sempat berembus di sejumlah daerah, sebuah potret indah justru lahir dari Desa Sambiki Baru, Kecamatan Morotai Timur. Di desa ini, perbedaan bukan alasan untuk terpecah, melainkan kekuatan untuk bersatu.
Selasa (7/4/2026), suasana penuh kehangatan tampak jelas ketika warga Muslim dan non-Muslim (Islam dan Kristen) bergandengan tangan, bekerja bersama membangun masjid. Tak sekadar gotong royong, ini adalah simbol nyata cinta damai yang hidup dan tumbuh dari hati masyarakat.
“Toleransi itu bukan hanya kata-kata. Di Sambiki Baru, kami menjadikannya sebagai tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari,” ungkap Penjabat Kepala Desa Sambiki Baru, Hamid Naba, dengan nada penuh haru.
Ia menceritakan bahwa hubungan kekeluargaan antara warga Muslim dan Kristen di desa tersebut begitu erat. Bahkan, kata dia, batas agama seolah lenyap ketika semangat kebersamaan berbicara.
“Kalau ada pekerjaan gereja, saudara-saudara Muslim ikut membantu. Begitu juga sebaliknya, saat pembangunan masjid seperti ini, justru banyak saudara-saudara Kristen yang datang bekerja. Ini sudah menjadi budaya kami,” jelas Hamid.
Lebih lanjut, Hamid menegaskan bahwa sejak awal pembangunan masjid, partisipasi warga Kristen sangat aktif. Mereka hadir bukan karena kewajiban, melainkan panggilan hati sebagai sesama manusia yang menjunjung tinggi nilai kebersamaan.
“Ini wujud kepedulian dan rasa memiliki. Karena itu, masyarakat Sambiki Baru tegas menolak konflik dan tidak mudah terprovokasi oleh isu-isu yang tidak benar,” tegasnya.
Di tengah suasana kerja bakti, tawa dan canda warga terdengar bersahutan. Tak ada sekat, tak ada curiga. Yang ada hanyalah semangat persaudaraan yang mengalir begitu tulus.
Hamid pun berharap, keharmonisan ini terus dijaga dan diwariskan kepada generasi berikutnya. Ia mengajak seluruh masyarakat untuk tetap mengedepankan rasa saling menghargai dan mengasihi tanpa memandang perbedaan.
“Jangan pernah membeda-bedakan. Kita harus terus menjaga kebersamaan ini agar kedamaian selalu ada di hati kita semua,” harapnya.
Ia juga menambahkan bahwa kondisi di beberapa wilayah seperti Halmahera Tengah dan Halmahera Utara kini mulai kondusif, setelah adanya langkah cepat dari pemerintah provinsi dan aparat keamanan.
“Alhamdulillah, situasi sudah mulai membaik. Ini harus kita jaga bersama, seperti yang kami lakukan di Sambiki Baru,” pungkasnya.
Kisah dari Sambiki Baru ini menjadi pengingat kuat bahwa perdamaian bukan sekadar slogan. Ia hidup dalam tindakan, tumbuh dalam gotong royong, dan bersemi dalam hati masyarakat yang memilih untuk saling mencintai di atas segala perbedaan. (Taufik Sibua)














