HALTENG ~ Aliansi KASBI menggelar aksi pada Jumat (01/05/2025) dalam momentum May Day dengan satu pesan keras dan kelas buruh kembali dijadikan korban utama dalam krisis global yang diciptakan sistem kapitalisme.
May Day bukan sekadar peringatan seremonial, melainkan simbol perlawanan panjang terhadap eksploitasi brutal dan jam kerja yang tak manusiawi, upah murah, dan represi negara yang terus berpihak pada kepentingan pemilik modal. Hari ini, wajah lama itu tidak berubah, hanya berganti rupa menjadi krisis global yang semakin dalam dan sistemik.
Di tengah memanasnya konflik internasional dan perebutan sumber daya, kapitalisme menunjukkan watak aslinya yakni rakus, eksploitatif, dan destruktif. Dampaknya menghantam langsung rakyat, harga energi melonjak, inflasi mencekik, dan ketidakpastian ekonomi meluas. Lagi-lagi, buruh dipaksa menjadi “tumbal krisis” melalui PHK massal, pemotongan upah, dan kondisi kerja yang kian memburuk.
Kongres Aliansi Serikat Buruh Indonesia (KASBI) juga menyoroti langkah pemerintah yang dinilai menyimpang dari mandat konstitusi dan prinsip hukum internasional. Keterlibatan dalam Board of Peace (BOP) bentukan Amerika Serikat dianggap sebagai bentuk ketundukan politik luar negeri yang mencederai sikap historis Indonesia terhadap perjuangan Palestina.
Tak hanya itu, penandatanganan perjanjian Agreement on Reciprocal Trade (ART) dengan Amerika Serikat pada Februari 2026 dinilai sebagai kebijakan yang sarat kepentingan asing dan berpotensi besar merugikan kedaulatan ekonomi nasional. Aliansi menilai, alih-alih melindungi rakyat, negara justru semakin dalam terseret dalam orbit kapitalisme global yang menindas.
Dalam pernyataannya, massa aksi menegaskan, tanpa perlawanan terorganisir, buruh akan terus menjadi korban dari sistem yang menempatkan keuntungan di atas kemanusiaan. May Day tahun ini menjadi seruan terbuka dan lawan kapitalisme, tolak imperialisme, dan hentikan militerisme demi kerja layak, upah layak, dan hidup yang bermartabat. (Odhe/Red)

















