HALTENG – Bupati Halmahera Tengah, Ikram Malan Sangadji, memilih tetap berada di wilayah konflik untuk menenangkan warga, meski di saat bersamaan istrinya sedang sakit dan dirujuk ke Jakarta.
Konflik yang terjadi pada Jumat (3/4) antara warga Desa Banemo dan Sibenpopo, Kecamatan Patani Barat, menyebabkan sejumlah rumah terbakar, warga mengungsi, serta memicu ketegangan sosial di kedua desa.
Di tengah situasi tersebut, Ikram turun langsung ke lokasi terdampak. Ia tidak hanya memimpin penanganan, tetapi juga berinteraksi langsung dengan warga, termasuk menyampaikan permintaan maaf dan mengambil tanggung jawab moral atas peristiwa tersebut.
“Jangan salahkan siapa-siapa, salahkan saya,” ujar Ikram di hadapan warga.
Menurut keterangan Irjen Pol Drs. Waris Agono, Ikram menghadapi dilema antara mendampingi keluarga dan menjalankan tugas sebagai kepala daerah. Namun, ia memilih tetap berada di Halmahera Tengah untuk memastikan situasi kondusif.
“Beliau tetap di sini karena rakyatnya,” kata Waris.
Pemerintah daerah bersama aparat keamanan kemudian melakukan langkah-langkah penanganan, mulai dari pengamanan wilayah, pembersihan puing kebakaran, hingga penyaluran bantuan bagi warga terdampak.
Selain itu, pemerintah juga menyiapkan pembangunan kembali rumah warga serta menjamin keamanan bagi pengungsi yang kembali ke tempat tinggal mereka.
Pada Selasa (7/4), proses rekonsiliasi antara warga kedua desa berlangsung di pelataran gereja setempat. Kedua pihak sepakat berdamai dan saling memaafkan, menandai berakhirnya konflik.
Nilai lokal Fagogoru yang menjunjung persaudaraan dan saling menghormati kembali menjadi dasar dalam memulihkan hubungan masyarakat.
Kehadiran langsung kepala daerah di lokasi konflik dinilai menjadi faktor penting dalam mempercepat proses pemulihan dan rekonsiliasi di Halmahera Tengah. (Odhe/Red)






















