Diduga Karena Perihal Ini, PT IWIP Dijuluki Perusahaan Pencabut Nyawa,

HALTENG, Teropongmalut.com – Hampir tak terhitung lagi jumlah nyawa karyawan baik pekerja Indonesia maupun asing yang meninggal dunia di wilayah industri PT Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP) di tanjung Ulie Lelilef Kecamatan Weda Tengah Kabupaten Halmahera Tengah Provinsi Maluku Utara ini.

Insiden yang menelan nyawa manusia terutama karyawan berbeda-beda. Ada yang kena gilasan truk, alat berat loader, ada yang terjepit alias tabrakan truk, dan ada yang terbakar akibat ledakan pabrik smelter.

“Tak terhitung lagi jumlah nyawa karyawan yang meninggal dunia mengenaskan di wilayah industri PT IWIP ini, jadi pantas saja saat PT IWIP di juluki perusahaan pencabut nyawa manusia,” ujar salah satu karyawan yang enggan sebut identitasnya ini Kamis, (12/1/2023) siang tadi.

Kecelakaan kerja pada perusahaan di kawasan industri PT IWIP ini sudah terbilang tinggi. Informasinya sudah hampir ratusan nyawa manusia alias karyawan yang telah melayang di kawasan perusahaan karena kecelakaan kerja.

“Ada yang meninggal dunia di tempat dan ada juga saat dirujuk ke rumah sakit,” jelasnya lagi.

Terbaru, kebakaran Smelter L dan gilasan truk pada bulan Januari 2023. Perihal duka ini terus terjadi karena diduga kuat perusahaan lalai menerapkan program K3

Banyak nyawa manusia alias karyawan yang menghembuskan napas terakhir mereka setelah bekerja sebagai karyawan pada perusahaan asing ini. Tingginya kecelakaan kerja di perusahaan ini, sebelumnya telah mengundang perhatian publik sejak lama.

Sepertinya keseriusan perusahaan dalam menerapkan management keselamatan dan kesehatan kerja (K3) terbilang gagal total. Buktinya, kehilangan nyawa bagi karyawan berjatuhan setiap tahunnya.

Itu artinya perusahaan hanya mengejar keuntungan tanpa memikirkan penerapan K3. Selain itu, Alat Pelindung Diri yang dikenakan pada karyawan harus berstandar atau disesuaikan dengan bidang pekerjaan masing-masing,” tandasnya.

Terutama bagi yang bekerja menempati ruang-ruang vital dengan memiliki tingkat resiko tingkat tinggi. Tak hanya itu, sistim kerja pun kadang kami di paksa meskipun tak enak badan.

“Menurutnya untuk orang yang kerja di tempat vital seperti begitu (Smelter) alias tungku harus beda. Kerena celaka atau tidak, pekerja selalu siaga. Alat Pelindung Dirinya harus tetap hidup,” tegasnya. (Odhe)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *