Diduga Sejumlah Pelaku dan Pengusaha Kayu Ilegal di Weda Rugikan Negara Untuk Perkaya Diri

Exif_JPEG_420

Reporter : Odhe
Editor : Redaksi

HALTENG, Teropongmalut.comSeorang pengusaha kayu di Weda Kabupaten Halmahera Tengah Provinsi Maluku Utara diduga sejak lama merugikan negara dalam aktivitas peredaran kayu olahan secara ilegal untuk memperkaya diri. Hal ini terungkap setelah pihak petugas menemukan beberapa kubik kayu olahan jenis merbau di Tempat Penampungan Kayu (TPK) UD Amelia yang beralamat di desa Were Kecamatan Weda belum lama ini.

Beberapa kubik kayu olahan jenis merbau tersebut setelah dikonfirmasi petugas pengusaha kayu tersebut mengaku tidak membayar PSDH dan DR-nya kepada Pemerintah. Dan selanjutnya yang bersangkutan meminta kepada petugas bahwa selain dirinya banyak juga pengusaha kayu yang tak membayar PSDH dan DR-nya,” begitulah sekilas penjelasan sumber informasi kepada media ini Rabu tanggal 13 September 2023 sore kemarin.

Foto saat truk angkutan kayu olahan tanpa dokumen tiba di TPK UD Amelia belum lama ini

Sumber ini mengaku bahwa pengusaha kayu desa Were itu tak miliki dokumen resmi, namun yang bersangkutan dibiarkan petugas KPH sehingga dengan leluasa ia menjalankan bisnisnya yang diduga tak memiliki izin tersebut,” demikian dijelaskan sumber media ini kemarin.

Menurut sumber bahwa pengusaha inisial AL itu meski tidak memiliki izin usaha jual beli kayu secara resmi dari pemerintah daerah dalam hal ini Dinas Kehutanan. Namun AL selalu mengangkut dan mendapat pasokan kayu olahan dari sejumlah warga yang merupakan pelaku ilegal logging di Kecamatan Gane Timur Kabupaten Halmahera Selatan.

“Padahal pengusaha kayu AL belum memiliki izin berupa Sistem Informasi Penatausahaan Hasil Hutan (SIPUHH) dan Provinsi Sumber Daya Hutan (PSDH) dan Dana Reboisasi (DR),” jelas sumber lagi.

Sejumlah orang yang juga diduga tak memiliki izin penebangan hutan (Hutan Hak) yang memasok kayu olahan secara ilegal ke AL masing-masing berinisial RM memasok Kayu ke AL dari Halmahera Timur (Haltim).

LN, memasok kayu dari Matuting Gane Timur, EI, memasok kayu dari Lalubi Gane Timur, HK, memasuk Kayu olahan dari Wosi Gane Timur, MP, memasok kayu olahan gergajian dari SP3 Lalubi, HR, memasok kayu ke AL dari Fida Gane Timur, dan HB, memasok kayu olahan dari Fida.

“Mereka-mereka itu tidak memiliki izin sama sekali, tapi mereka aman-aman saja dalam memasok kayu ke AL,” beber sumber.

Akibat penebangan hutan tanpa izin lanjut sumber itu Kabupaten Halmahera Selatan diduga mengalami kerugian per tahun yang diperkirakan paling sedikit senilai Rp 14 milyar,” tutupnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *