Diduga Serobot Tanah Milik Orang, Oknum ASN Terancam di Polisikan,

Reporter : Odhe
Editor : Redaksi

HALTIM, Teropongmalut.comDugaan penyerobotan pemilikan tanah, warga desa Sailal Kecamatan Maba Kabupaten Halmahera Timur yang merupakan Aparatur Sipil Negara (ASN) Anti Lapiu terancam dipolisikan oleh warga pemilik lahan diantaranya La Siompu Laode adik-adiknya.

Buktinya, lahan tanah yang terletak di desa Buli Karya Kecamatan Maba yang belum dibeli dan dikuasai oleh orang tua oknum ASN ini yakni Rusman Lapiu (Alm) pun sudah dijual oleh oknum ASN Anti Lapiu. Penjualan lahan tanah tersebut dipraktekkan oknum ASN ini karena mengklaim keseluruhan lahan tanah milik orang tua Djoipa Iskandar Alam (Alm) telah dijual habis oleh La Siompu Laode (anak) tertua Almarhum Djoipa Iskandar Alam dengan dalil utang piutang.

Terkait praktek tersebut, La Siompu Laode mengaku kesal dan murka atas dalil yang di sampaikan keluarga Rusman Lapiu (Alm) ini, karena menurutnya, dia tak punya utang piutang terhadap Almarhum Rusman Lapiu. Justru kala itu mereka (Rusman Lapiu dan istrinya) meminta dan menyuruh kepada saya (Siompu) untuk mencari orang (operator senso) untuk melakukan gergajian kayu olahan jenis kayu mologotu (kayu hitam) di desa Sakam Kecamatan Patani Timur Kabupaten Halmahera Tengah dengan modal sebesar Rp 7 juta.

Dan saat itu, kayu hitam yang sudah dikelola dan digergajian itu menuai masalah karena dinyatakan ilegal oleh pihak kepolisian dan kepala desa Sakam. Kemudian Almarhum Rusman Lapiu dan istrinya tak mampu bertanggung jawab sehingga saat itu saya tertahan di desa Sakam sedikit lama di sana.

Diduga karena mereka tak mau rugi dengan uang Rp 7 juta dalam aksi ilegal itu, mereka dinilai sengaja membodohi orang tua dan adik-adik saya dengan dalil bahwa saya mempunyai utang piutang sebesar Rp 7 juta. Hal ini sebut-sebut terus menerus dengan tujuan mempermalukan keluarga saya, dan akhirnya adik saya Lamagi Laode pun menjual lahan tanah seluas 75 x 44 meter yang merupakan bagiannya kepada Almarhum Rusman Lapiu dengan syarat asalkan jangan lagi sebut-sebut utang piutang saya (Siompu).

Tak hanya sampai di situ, sebutan utang piutang kembali disampaikan kepada adik saya yakni Laije Laode sehingga adik saya pun kembali menjual lahan tanah seluas 34 x 25 x 9 meter. Dan saya pun menjual sebidang lahan tanah seluas 30 x 25 x 10 meter pada bagian sudut yang berbatasan dengan adik saya yakni Wasia Laode sebelah barat. Sementara kedua adik saya menjualnya lahan tanah mereka di bagian Timur yang saat ini menghadap jalan,” kisah Siompu Sabtu, (22/09/2023) sore tadi di sela-sela saling klaim lahan tanah di lokasi.

Karena merasa oknum ASN ini sudah merampok untuk menguasai lahan tanah yang belum kami jual itu, sehingga direncanakan kami sekeluarga bakal melaporkan sikap dan tindakan oknum ASN yang sudah terbukti menjual lahan tanah kami yang belum kami jual tersebut,” tegas Siompu.

“Minggu tanggal 22 September 2023 besok oknum ASN tersebut bakal dilaporkan ke Polres Haltim karena oknum ASN ini sudah terbukti menjual beberapa kapling lahan tanah kami yang belum kami jual. Oknum ASN ini diduga melakukan penyerobotan lahan tanah melalui surat sertifikat pemegang hak Rusman dengan luasan 16831 M² yang tak mampu menghadirkan surat penjualan atas terbitnya sertifikat tersebut,” jelasnya.

Pada kesempatan ini, kami sekeluarga menghimbau kepada warga masyarakat yang berstatus sebagai karyawan dengan segera menghentikan aktivitas pembangunan karena lahan yang dijual oknum ASN Anti Lapiu itu, sama sekali tidak pada sasaran lahan yang kami jual kepada orang tua oknum ASN tersebut. Untuk itu, lahan tanah yang sudah kalian bangun akan kami tahan sampai persoalan penyerobotan lahan tanah ini diselesaikan,” tegasnya.

Sementara mantan Kades dan Kades serta beberapa stafnya pun mengaku bingung atas surat jual beli yang dinilai tak sesuai fakta dilapangan tersebut. Mereka menilai ada yang tak beres pada surat jual beli yang di pegang oleh oknum ASN tersebut, karena isi surat jual beli itu bertentangan dengan hasil dilapangan. Bisa fatal jadinya jika mereka bersih keras mempertahankan, karena surat jual beli yang asli dari ketiga bersaudara yakni Siompu, Laije dan Lamagi ini tak mau memperlihatkan kepada kami pemerintah desa dan Bhabinkamtibmas yang berniat memediasi persoalan ini.

Malah meraka mengatakan surat jual beli yang asli sudah mereka titipkan di Kantor Pengadilan Negeri, secara logika sangat tak masuk akal jika surat jual beli yang merupakan dokumen itu dititipkan di Kantor Pengadilan Negeri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *