Harita Nickel Gelar Media Capacity Building Bagi Jurnalis di Labuha

Labuha–TeropongMalut.com, Harita Nickel mendukung upaya peningkatan kapabilitas serta pemahaman jurnalis di Labuha, Halmahera Selatan Maluku Utara terkait industri pertambangan mineral dan tata kelola lingkungan berkelanjutan. Peningkatan kapasitas dan kapabilitas media (media capacity building) ini dilakukan melalui lokakarya dengan tema “Overview industri pertambangan mineral di Maluku Utara dan Tata Kelola Lingkungan Berkelanjutan” yang digelar di Labuha, Selasa (14/3).
Kegiatan media capacity building tersebut diikuti 27 jurnalis yang ada di Halmahera Selatan. Mereka mendapatkan materi terkait selayang pandang industri pertambangan nikel di Maluku Utara yang disampaikan Managing Director Petromindo Group, Alexander Ginting dan tata kelola lingkungan pertambangan berkelanjutan Harita Nickel di Pulau Obi yang disampaikan Environmental & Compliance Manager Harita Nickel, Muharwan Syahroni.
Director of External Relations, Stevi Thomas menyatakan kegiatan ini adalah bentuk kepedulian Harita Nickel dalam meningkatkan pemahaman para wartawan di Halmahera Selatan Maluku Utara terkait industri pertambangan mineral. Di samping itu lanjut Stevi melalui kegiatan ini dapat memberikan pemahaman terkait pengelolaan lingkungan berkelanjutan yang dilakukan Harita Nickel di Pulau Obi.
“Kegiatan ini digelar sebagai bentuk komitmen kami dalam menjaga silaturahmi dengan rekan-rekan media di Halmahera Selatan Maluku Utara,” kata Stevi. Tahun lalu kegiatan yang sama juga digelar di Ternate.
Sementara itu dalam paparannya Alexander Ginting menjelaskan bahwa sebagai salah satu wilayah yang memiliki sumberdaya nikel terbesar di Indonesia, Maluku Utara bisa menjadi penopang Indonesia yang berperan penting dalam penyediaan bahan baku nikel dunia. Ke depannya, dengan cadangan nikel yang cukup besar menurut Alex, Indonesia bisa menuju pusat industri baterai dunia.
Sementara itu Muharwan menyampaikan pemaparan terkait program pengelolaan dan pemantauan lingkungan Harita Nickel di Pulau Obi. Khususnya terkait pemantauan flora, fauna dan biota air, limbah domestik dan limbah B3, air permukaan, air tanah dan air laut, reklamasi, udara ambien, emisi dan Gas Rumah Kaca. Ditambahkan Muharwan, kinerja pengelolaan lingkungan Harita Nickel di Pulau Obi juga dievaluasi secara ketat oleh pihak melalui evaluasi rutin dari pemerintah provinsi dan kabupaten (DLH), serta instansi terkait lainnya.
Hasil Evaluasi Pengelolaan dan Pemantauan Lingkungan 5 IUP Harita Nickel yakni PTTBP, PT GPS, PT JMP, PT OAM, PT BJM pada hari Minggu tanggal 12 Maret, 2023 dengan Hasil semuanya “TAAT”.
Sementara itu salah seorang peserta lokakarya yang juga wartawan senior, Irfan Abdurahim mengapresiasi kegiatan media capacity building yang digelar Harita Nickel ini.
“Kita berterima kasih kepada Harita Nickel karena telah mengadakan kegiatan Media Capacity Building. Kegiatan ini sangat bagus karena untuk menambah wawasan wartawan di Halmahera Selatan, selain itu kegiatan ini penting karena Harita Group menyampaikan berbagai program kegiatan yang telah, sedang dan akan dilaksanakan kedepan,” kata Irfan.
“Kami berharap kegiatan ini bisa berkelanjutan sehingga bisa menambah wawasan kaitan dengan pertambangan dan masalah lingkungan,” tandasnya.

Tentang Harita Nickel
Harita Nickel merupakan bagian dari Harita Group yang beroperasi di Pulau Obi, Halmahera Selatan, Maluku Utara. Selain memiliki IUP Pertambangan, perusahaan sejak 2016 telah memiliki pabrik peleburan (smelter) nikel saprolit dan sejak 2021 juga memiliki fasilitas pengolahan dan pemurnian (refinery) nikel limonit di wilayah operasional yang sama. Kedua fasilitas tersebut hadir untuk mendukung amanat hilirisasi dari pemerintah Indonesia dengan memanfaatkan hasil tambang nikel dari Trimegah Bangun Persada (TBP) dan Gane Permai Sentosa (GPS).
Melalui Halmahera Persada Lygend (HPAL), Harita Nickel menjadi pionir di Indonesia dalam pengolahan dan pemurnian nikel limonit (kadar rendah) dengan teknologi High Pressure Acid Leach. Teknologi ini mampu mengolah nikel limonit yang selama ini tidak dimanfaatkan menjadi produk bernilai strategis, yaitu Mixed Hydroxide Precipitate (MHP). Dengan tahap proses berikutnya yang juga sedang dikembangkan oleh Harita Nickel, MHP akan diolah lebih lanjut menjadi Nikel Sulfat (NiSO4) dan Kobalt Sulfat (CoSO4) yang merupakan bahan baku baterai kendaraan listrik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *