HALTENG, Teropongmalut.com – Banjir yang melanda sebagian wilayah di Kecamatan Weda Tengah dan Kecamatan Weda Utara, Kabupaten Halmahera Tengah, Provinsi Maluku Utara, sejak Minggu (21/7/2024) telah menyebabkan ribuan warga mengungsi.
Hujan deras dengan durasi panjang yang terjadi sejak awal bulan Juli telah mengakibatkan meluapnya Sungai Kobe, Sungai Sagea dan Sungai Waleh. Ketinggian air banjir mencapai 0,5 hingga 2,5 meter, menyebabkan genangan di empat desa: Lukulamo, Kulo Jaya, Woekob, dan Woejerana Kecamatan Weda Tengah, Sagea, dan Trans SP 1 Waleh Kecamatan Weda Utara.

Proses evakuasi dilakukan selama dua hari, mulai tanggal 21-22 Juli 2024, dengan bantuan dari BPBD Halteng, TNI, Polri, relawan, dan PT IWIP. Sebanyak 2.372 warga mengungsi ke sejumlah titik, termasuk Mako Kodim 1512 Weda, Mako Brimob, Masjid Raya, Gereja Pantekosta Lelife, Lukulamo, dan sejumlah rumah warga.
Data sementara menunjukkan 374 unit rumah, 14 unit kos-kosan, dan 98 tempat usaha terendam banjir. Selain itu, 16 fasilitas umum, termasuk 10 sekolah dan 6 rumah ibadah, juga tergenang air. Kerusakan pada instalasi air bersih dan jaringan listrik menyebabkan aktivitas sekolah, ibadah, dan penerangan listrik dihentikan sementara.
Penanganan pasca banjir melibatkan berbagai pihak, termasuk Pemda Halteng, TNI/Polri, BPBD, Dinas Kesehatan, Dinas Sosial Provinsi Maluku Utara, dan perusahaan pertambangan. Bantuan logistik, termasuk makanan siap saji, pakaian, dan obat-obatan, telah disalurkan kepada para pengungsi.
Pada tanggal 26 Juli 2024, rapat koordinasi terpadu penanganan pasca banjir memutuskan bahwa batas tanggap darurat ditetapkan hingga tanggal 27 Juli 2024. Pemulangan pengungsi dimulai pada tanggal 26 Juli pukul 17.00 WIT.
Strategi Penanganan Jangka Pendek dan Jangka Panjang diantaranya: Penanganan fisik pasca banjir dilakukan dengan strategi jangka pendek dan jangka panjang. Untuk Jangka Pendek: Sodetan dan pengerukan lumpur dan sedimentasi di badan dan muara Sungai Kobe, Perbaikan jaringan air bersih dan instalasi listrik, Reservasi jalan raya sepanjang 6,7 km, Perbaikan sekolah dan rumah ibadah yang rusak ringan.
Sementara untuk jangka panjang: Penanganan sungai dan jalan akan menjadi prioritas dalam program tahun 2025 melalui APBN, APBD Provinsi Maluku Utara, dan APBD Kabupaten Halmahera Tengah. Perusahaan pertambangan akan berkontribusi dengan porsi 70% untuk penanganan jangka panjang. Fasilitas pendidikan dan kesehatan akan mendapat dukungan dari Pemda Halmahera Tengah dan Kementerian PUPR Provinsi Maluku Utara.
Total bantuan logistik berasal dari 89 perorangan, 25 kelompok masyarakat, 5 pemerintah daerah, 8 unit kerja pemerintah pusat, TNI/Polri, PT IWIP, PT Tekindo Energi, dan 4 perusahaan tambang skala menengah, Tercatat 96 pengungsi mengalami gangguan kesehatan, terdiri dari 64 anak-anak dan 32 orang dewasa.
Penyakit yang diderita pengungsi meliputi gatal, batuk, pilek, dan demam, Penanganan kesehatan didukung oleh 25 tenaga kesehatan dari Dinas Kesehatan Halmahera Tengah, Puskesmas Weda dan Weda Utara, Klinik Petai, dan tenaga kesehatan dari Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Weda. (Odhe)














