LANDASAN HISTORIS BUDAYA FOLOPULA (FOFAWO): Modal Sosial Orang Makean Barat

  • Share

Oleh : Syahril Muhammad
Ketua Ikatan Sarjana BM

TeropongMalut.com, Dalam mengawali pembahasan landasan historis Budaya Folopula (Fofawo) orang Makean Barat (Moari), dapat dijelaskan historis berdasarkan kisah Kronik Bacan dan catatan Antonio Glavao dalam Lapian (2003) disebutkan bahwa Limau Dolik adalah negeri pertama Kerajaan Makean (Mara) Kie Besi dengan Sultan pertama adalah Sultan Muhammad Bakir. Sehubungan dengan krisis sumber daya air, sehingga memaksakan pusat Ibu Kota Kesultanan Makean dipindahkan ke Pulau Kasiruta (Imbu-Imbu) melalui pulau-pulau Guraici (Talimau), Moari atau Moring-Noari yang mempunyai hubungan dengan sebuah mata air yang dikenal dengan Air Boki (Boki Niako) di Moari.


Melalui semangat budaya Marabose Sultan Muhammad Bakir dan permansurinya Boki Topowo di antar dengan perahu kora-kora dari Moari melalui Selat Lata-Lata menuju Imbu-imbu dan disambut oleh Kepala Negeri yang bergelar Ambassaya Imbu-Imbu, kedua adalah Sultan Kapaslolo (Sultan Siragarah Kasiruta Ke II), ketiga Sultan Zaenal Abidin (Sultan Sigarah Kasiruta Ke III), keempat Sultan Bayannusirullah (Sultan Moloku Kasiruta Ke IV), kelima Sultan Alaudin (Sultanan Moloku Kasiruta Ke V tahun 1004 H), keenam Sultan Nurussalat (Sultan Moloku Bacan Labuang Kolano ke VI), Ketujuh, Sultan Muhammad Ali (Sultan Moloku Bacan ke VII), Kedelapan, Sultan Alawaddin (Sultan Moloku Bacan ke VIII) dan kesimbilan, Sultan Malikiddin (Sultan Moloku Bacan ke IX).


Bacan merupakan daerah yang masih menganut sistem pemerintahan Kesultanan Bacan. Kesultanan ini masih berdiri hingga saat ini. Kesultanan ini merupakan kesultanan yang paling berpengaruh dari segi perdagangan rempah-rempah dunia sejak jaman penjajahan bangsa-bangsa Eropa dan Asia lainnya. Kesultanan ini masih berdiri kokoh dengan memperlihatkan bukti-bukti peninggalan cagar budaya, seperti Keraton Kesultanan, Masjid Sultan sampai dengan peningggalan-peninggalan bangsa Eropa seperti benteng dan banguanan peninggalan Belanda lainnya.


Empat Kerajaan Kie Raha Ternate, Tidore, Makean/Bacan dan Moti/Jailolo memiliki tugas dan fungsi masing-masing. Bacan adalah kerajaan yang fokus pada diplomasi, disamping Ternate yang fokus pada pertahanan dan keamanan, Tidore pada pemerintahan dan Jailolo pada kesejahteraan. Bacan adalah penghasil sentra rempah-rempah di Maluku Utara dengan banyaknya bukti-bukti logis maupun geografis yang menegaskan bahwa Bacan merupakan daerah penghasil rempah-rempah. Dari segi geografis, Bacan adalah sentra rempah-rempah cengkih yang terhampar di bukti Sibela dan pohan-pohon pala di kawasan kampung goro-goro diperkirakan telah berumur ratusan tahun.


Di Kerajaan Maluku Utara hanya Bacan yang memiliki perjanjian kerjasama dagang. Perjanjian kerjasama dagang ini dilakukan pemerintah Belanda dengan Kesultanan Bacan dengan sebutan Batjan Archipel Maatschappij. Ini dibuktikan dengan Bacan memiliki mata uang tersendiri yang di depan tertuliskan Goed Voor Gulden dan di belakang tertuliskan Roterdam Batjan Cultuur Maatschappij.


Kesultanan Bacan memiliki lambang kebesaran kerajaan sebagai bentuk kekuatan kerajaan. Lambang Kerajaan ini disebut sebagai bendera pasukan memiliki tiga kekuatan yang menjadi satu. Lambang Awir atau burung, Naga dan Alu-Alu atau ikan mengartikan tiga kekuatan yang dimiliki Kerajaan Bacan. Selain itu ada pula bendera negara dan bola dunis yang melambangkan kekuatan kerajaan yang melindungi negara Republik Indonesia dari Jajahan bangsa-bangsa asing.


Ketika membahas tentang suku Makean ini, ada salah satu kebiasaan atau kebudayaan setempat yang di namakan “Folopula” atau Fofawo yang kalau diartikan dalam bahasa Indonesia adalah “Membayar”. Folopula adalah salah satu tradisi masyarakat Makean Barat yang dilakukan ketika salah satu orang/masyarakat setempat meninggal dunia, mereka akan membuat tahlilan dan mendoakan arwah Almarhum/Almarhumah yang sudah tiada.


Tahlilan yang di lakukan adalah selama sembilan hari dan uniknya selama sembilan hari berjalannya tahlilan, makan yang di sajikan harus berbeda-beda dari hari kehari selama sembilan hari. Setelah proses penguburan selesai, hari pertama disajikan kue-kue kepada para undangan dan orang-orang sekitar unutk dimakan, kemudian hari kedua disajikan makanan-makanan seperti nasi kuning, nasi putih dan beberapa sayur-sayuran. Pergantian makanan dalam proses tahlilan akan berlajut sampai tahlilan itu selesai.


Berkaitan dengan konsep tradisii upahan, Triyuwono (2004 )menegaskan bahwa upahan (Tanggungan Paguyuban) mengandung nilai-nilai budaya masyarakatyang membangun dan mempraktikkannya,tidak bebas dari nilai-nilai masyarakat (valueladen).Pandangan ini menggarisbawahi Hofstede (Perera (1989), dan Riahi-Belkaoui dan Picur (1991) yang menyatakan Tanggungan atau upahan dibentuk oleh nilai-nilai budaya masyarakat, sistem ekonomi, dan sosial.


Peranan Folopula sudah menjadi bagian dari perilaku budaya (lokal). Eksplorasi kajian Folopula yang ada saat ini, mulai mengekspresikan model yang sesuai dengan karakteristik lingkungan lokal dan budaya sosialnya. Terdapat beberapa studi yang berusaha mengeksplorasi bentuk-bentuk modal sosial serta pemaknaannya dalam ranah lokalitas budaya.


Dalam kegiatan upahan dan Folopula,baik pada saat menerimadan memberi uang, yang berduka menerima sebagai sedekah, Sedekah yang dilakukan dengan niat tulus ikhlas karena Allah SWT ,tanpa mengharap balasan apapun. Meski pada sisi lain, setiap orang juga akan mengalami hal yang sama, mati. Setiap orang akan mati dengan prosesi tradisi yang sama.
Bahwa baik dan buruk seseorang bagi masyarakat suku Makean, akan terlihat dari bagaimana tradisi “Folopula” dilakukan.

Perbuatan baik harus selalu dijaga. Hikmah di balik pandangan ini adalah bahwa semua perbuatan baik yang kita lakukan, akan mendapatkan balasan yang lebih baik. Semua yang terjadi kembali kepada diri kita sendiri. Gambaran ini memberikan kesan bahwa, semasa hidupnya (almarhum/almarhuma), tidak pandang lelah dan tidak melihat status sosial seseorang ketika membantu orang lain. Tanpa disadari dan diketahui oleh siapapun, hal ini memberikan jawaban kepada kita semua.

Kehadiran dan partisipasi warga leleyan, kelancaran acara tanpa kekurangan apa pun, menjadi bukti perbuatan baik almarhum semasa hidupnya. Jadi piutang-utang yang timbul dari tradisi upahan dan “Folopula”, adalah ketika menerima dan memberi dengan tulus ikhlas, dan hanya Allahlah yang akan membalasnya.


Folopula dalam tradisi ini mencerminkan bagaimana semangat spiritualitas yang ada di dalamnya. Hal ini tercermin dari bentuk menerima danmemberi (uang), tanpa adanya catatanataupelaporan. Hal ini tentunya mencerminkan akan kebersamaan dan makna dan amanah atas tanggung jawab yang diberikankepada penerima amanah.


Dalam tradisi Folopula, pada dasarnya sedekah yang diberikan bukan hanya dalam bentuk upahan dan Folopula, namun juga dalam bentuk- bentuk lain, misalnya bahan kebutuhan pokok yang menunjang keberlangsungan acara ini, termasuk pula tenagadan partisipasi yang ditonjolkan dalam tradisi leleyan. Keberadaan ini ditunjang pula oleh cara pandang moboko ene ma ibirahi (kebersamaan dan keutuhan) yang terjaga dalam masyarakat Makean Barat (Orang Moari). (Selesai)

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *