Puluhan Tahun, Warga Malut Masih Dipaksa Melaju di Jalan Kerikil

Oplus_131072

HALTENG ~ Sejumlah sopir angkutan penumpang dan barang melontarkan kritik keras terhadap kondisi infrastruktur jalan yang hingga kini tak kunjung dibenahi. Mereka menegaskan, jalan yang dilalui setiap hari bukanlah jalan aspal layak, melainkan hamparan kerikil yang ditambal sisa aspal terkelupas dan membahayakan pengguna jalan.

“Kita harus jujur, yang kita lewati saat ini bukan lagi jalan aspal, tapi jalan kerikil yang dipaksakan disebut aspal,” ujar seorang sopir kepada media, Senin (5/1/2026) sore.

Secara teknis, kondisi tersebut dikenal sebagai ravelling atau pengelupasan perkerasan jalan tanda kerusakan serius akibat lemahnya ikatan antara aspal dan agregat. Kerusakan ini umumnya dipicu usia jalan yang tua, beban lalu lintas berlebih, cuaca ekstrem, hingga kualitas konstruksi yang buruk sejak awal pembangunan.

Para sopir menilai pemerintah lebih sibuk membanggakan royalti tambang ketimbang menyelesaikan kewajiban dasar menyediakan jalan yang layak. Mereka mempertanyakan prioritas pembangunan yang dinilai tidak berpihak pada keselamatan dan kebutuhan masyarakat.

“Jangan bangga soal royalti tambang kalau jalan, dan jembatan rusak dibiarkan Pemprov Maluku Utara. Masih banyak jalan dan jembatan sempit dan belum diaspal, tapi malah mau bikin jalan baru sampai ke tengah hutan. Di pesisir saja warga sudah terancam dengan OTK, apalagi di hutan belantara,” tegas mereka.

Kondisi ini dinilai bukan sekadar persoalan teknis, melainkan cerminan kelalaian perencanaan dan lemahnya keberpihakan kebijakan terhadap keselamatan publik. Warga berharap kritik ini tidak kembali diabaikan seperti tahun-tahun sebelumnya. (Odhe)

IMG-20251219-WA0016
IMG-20251219-WA0016
previous arrow
next arrow

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *