HALTENG — Selasa (7/4/2026), di tanah yang pernah bergetar oleh konflik, tak pernah ada pemenang sejati. Yang tertinggal hanyalah jejak luka, sunyi kehilangan, dan rindu panjang akan pelukan damai.
Di Patani Barat, harapan itu masih bernapas. Warga Desa Sibenpopo yang sempat mengungsi ke Fritu dan Yeke kini mulai menapaki jalan pulang dengan pelan, penuh hati-hati, namun sarat keyakinan. Di balik rasa cemas yang belum sepenuhnya reda, tumbuh keberanian untuk kembali merajut hidup yang sempat tercerai.
Situasi keamanan berangsur membaik. Pemerintah daerah bersama TNI dan Polri terus mengawal kepulangan warga, memastikan setiap langkah kembali terasa lebih aman, setiap denyut kehidupan perlahan hidup kembali. Hal ini disampaikan Ikram Malan Sangadji melalui media sosialnya.
Pemulihan kini bukan hanya tentang membangun rumah yang runtuh, tetapi juga menata hati yang retak. Di antara puing-puing yang tersisa, warga belajar kembali percaya pada sesama, pada hari esok, pada damai yang sempat hilang arah.
Ajakan itu terus bergema, lirih namun menguatkan, pulanglah. Bersihkan sisa luka, bukan hanya di sudut-sudut rumah, tetapi juga di relung jiwa. Sebab di sanalah cinta dan kebersamaan menemukan jalannya kembali.
Di Patani Barat, damai mungkin belum sempurna, namun ia telah tumbuh dari luka yang dipeluk dengan sabar, dari harapan yang tak pernah benar-benar padam. Bersama, masyarakat bangkit; saling merangkul, mereka belajar mencintai lagi, dan perlahan, sembuh. (Odhe/Red)






















