Sajak Darah dari Timur, Mengenang Pahlawan Negeri Para Raja

  • Share

TeropongMalut.Com Puisi dimata para anak muda sekarang mungkin terkesan jadul (jaman dulu). Tak banyak diantara mereka yang jadikan puisi sebagai alarm, sebagai penggugah rasa, dan sebagai torehan seni yang dapat membius lelahnya tapakan hidup.

Jauh dari itu, Menyandingkan konsep puisi dan edukasi dalam menggapai cita-cita leluhur adalah bagian yang harus dipandang penting.

Amal Hasanuddin (De facto Rap) dalam perayaan Hari pahlawan 10 November kemarin, mengupload sebuah sajak di Chanel YouTube miliknya sebagai reaksi akan peringatan hari Pahlawan Nasional 10 November 2021.

Puisi berjudul “Jangan Lupakan Kami” seakan menangangkat suara hati para pendahulu bangsa dinegeri Moloku Kie Raha.

Tak hanya itu dalam puisinya, Amal mencoba menyodok akan pelajaran disekolah yang banyak mengenalkan Pahlawan dari Java, sementara pahlawan negeri sendiri kurang mendapat tempat untuk diajarkan.

Beberapa Nama yang diangkat Amal dalam puisinya sebagai pahlawan Negeri empat gunung yang dapat diambil hikamah dan teladannya. Mereka di antaranya: Suba Jou Alam Ma Kolano Iskandar Muhammad Djabir Syah, Haji Ngade, Tuan Haji Salahiddin, Daud Umar dan tokoh-tokoh lain yang belum sempat diangkat.

“Di sekolah tong disini tra dapa Kase ajar nama para Tokoh itu, Tong tra dapa itu di sekolah, cuman bagian Java saja yang tong balajar. Tong pe tokoh hebat sendiri tong lupa” Cetus Amal Tersenyum

Menurut Amal, orang-orang Luar biasa yang diangkat dalam puisinya adalah pahlawan yang harus dikenang dan jangan dilupakan oleh anak cucu Molouku Kie Raha.

“Bukan nama, uang, tahta, dan jabatan, yang Meraka cari, tapi ridho Allah. Itu nilai, jangan sampai kita anak cucu lupakan, mereka telah dengan tulus berjuang untuk negeri ini” tutur Amal.

Kepada TeropongMalut.com Amal berharap, bahwa pengetahuan lokal, sejarah daerah harus mendapat tempat di negara ini, sebagai kurikulum pendidikan.

“Amal pe harapan Sebagian pengatahuan lokal yang punya peran penting buat daerah dan negara bisa masuk dalam kurikulum pendidikan dasar sampe SMA. Nilai-nilai dasar, adab dan hal-hal yang bawa tong jadi orang bae itu bisa tong balajar dan praktek dalam hidup sehari hari. Itu pasti semua wilayah pe generasi so pernah usulkan di Pemda setempat tapi belum lia dia pe hasil. Untuk itu, tong cuman bisa bantu lewat karya supaya yang kurang suka baca tapi senang dengar puisi dan lagu bisa sdiki-sdiki balajar sama-sama lewat karya yang tong ada titip edukasi di dalamnya” Tutup Amal.

Berikut puisinya;

NOVEMBER.

Di negeri bertuah, tanah kandung ibarat mama
Sang penjajah bergantian datang monopoli rempah.
Tinta emas di kanvas ingatan
April 1945 kala yang mulia sultan diburu jepang,
ke Morotai jadi tempat aman untuk misi penyelamatan
Suba Jou Alam Ma kolano Iskandar Muhammad Djabir Syah.

Dari berabad peradaban bangsa yang lahir dari perjuangan
Sesekali kita harus berganti jaga menemani lelapnya
Bukan untuk riuh permainan belia,
Bela negara bela penguasa
Ini sebenar-benarnya peringatan.

Masih adakah? Musuh berupa kita,
Nila setitik rusak susu sebelanga.
Kalau begitu, cukup…cukup!
Dua pecinta suguhkan rasa haru setenang telaga, tunduk kepala, mengenang jasa dengan rasa bangga.
Tak sekedar eforia perayaan kemudian alpa menjiwainya
Sebab kadang kata-kata tak bernyawa bak Bianglala.

Kita terlalu terpaku oleh tokoh-tokoh di Java, hingga lupa pada sosok pahlawan di negeri para raja-raja.
Tuan Haji Salahuddin di HalTeng
Heroiknya perlawanan Haji Ngade
Daud Umar merobek bendera di hotel Yamato
Juga Banau yang rela mati karena Jailolo.
Peluru pisau menggali ngeri
Agar perlawanan mutlak berdenyut nadi.
Jejakmu pahlawan terukir di dinding kenangan
Mereka telah berhasil memanjat menara kebijaksanaan.

Damar kini masih menyala
Di hari sakral yang tak lagi sakral
Kami panjatkan doa berkalung syukur sepuluh jari guna membatin
satu penutup sebagai amiin.
Selamat terima, atas jasa kasih para pahlawan.
Legasinya merasuk abadi
Karena di bagian utara tragedi
Kami lahir ber-ari-ari-kan tradisi
Menjaga Ngara Romtoha yang adalah diri, Bobaso se rasai.
Melepas kekang dari sugesti kompeni
Melawan dan mati berkali-kali
Demi Kejayaan negeri.
Jangan lupakan!
Pahlawan-pahlawan kami. (Mursal/red)

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *