Di Jalan Yang Ayah Bukakan

Ternate-TeropongMalut.com, Anak itu melangkah menjauh, membawa tas kecil dan buku catatan. Di belakangnya, sang ayah berdiri, diam di jalan tanah yang pernah ia buka dengan kapak dan doa. Jalan itu kini sunyi, tapi hati mereka tetap terhubung._

Pagi itu, udara desa terasa berbeda. Kabut menyelimuti lereng perbukitan dengan lebih tenang, seolah alam sedang bersiap menyambut perubahan kecil yang bermakna besar. Di halaman rumah Pak Salim, suara ayam bersahutan seperti biasa. Tapi tak ada lagi suara kapak yang menebas batang kayu. Tak ada bunyi tumpukan ranting yang disusun untuk dijual. Hanya keheningan yang berdiri bersama bayang-bayang waktu.

Pak Salim duduk di bangku bambu, mengenakan baju terbaiknya—kemeja lusuh yang telah disetrika Hamja malam sebelumnya. Di hadapannya, sebuah tas kecil berwarna abu-abu tergeletak di atas meja, berisi pakaian ganti, buku tulis, dan harapan.

Hari itu adalah hari keberangkatan Hamja ke kota. Ia resmi diterima di SMP unggulan berasrama, setelah melalui seleksi ketat dan menunjukkan kemampuan akademik yang mengesankan. Tak banyak anak dari desa terpencil yang berhasil sampai ke tahap itu. Dan Hamja adalah salah satunya.

Di dalam kamar, Hamja masih sibuk menyiapkan diri. Ia merapikan buku catatan kecilnya—buku yang menemaninya sejak kelas lima, penuh dengan tulisan tangan rapi, coretan rumus, catatan harian, dan doa-doa yang ia tulis dalam diam.

Pak Salim menoleh ke arah kamar itu. Hatinya penuh. Ada rasa bangga, tentu. Tapi juga kekosongan yang mulai mengendap. Rumah yang selama ini terasa hidup oleh suara Hamja kini akan sepi. Tak akan ada lagi suara anaknya membaca keras-keras saat belajar, tak ada lagi tanya-tanya polos tentang akar tanaman atau makna kata dalam buku. Tapi ia tahu: inilah waktunya melepaskan. Seperti pohon yang melepaskan daunnya saat musim berganti, Pak Salim pun harus merelakan kepergian Hamja demi pertumbuhan yang lebih tinggi.

Saat matahari mulai meninggi, warga desa mulai berdatangan ke depan rumah Pak Salim. Mereka datang bukan hanya untuk mengantar Hamja, tapi juga untuk memberi restu dan dukungan. Mereka tahu kisah keluarga ini. Mereka tahu betapa berat jalan yang ditempuh Pak Salim demi satu hal yang diyakininya: pendidikan.
“Anakmu membanggakan, Lim,” kata Pak Ibrahim, tetangga dekat.

“Jarang anak petani bisa sampai sejauh itu,” sahut Bu Salam, sambil mengelus kepala Hamja.
Hamja hanya tersenyum, sambil menyalami satu per satu tetangga yang datang. Di dalam hatinya, ia menuliskan satu janji yang tak akan pernah ia ucapkan dengan kata-kata: _“Aku akan kembali, membawa sesuatu yang bisa kubagikan untuk desa ini, untuk Ayah.”_

Saat Kapal yang akan membawanya ke kota, suasana mulai haru. Tas Hamja diangkat ke Kapal, lalu ia pamit kepada semua orang. Tapi langkahnya tertahan ketika harus berpamitan dengan Pak Salim. Ia berdiri kaku di hadapan ayahnya, menunduk, menahan tangis.
“Ayah… Hamja pamit.”
Pak Salim memeluk anaknya erat. “
Pergilah. Pelajari dunia yang lebih luas. Tapi jangan lupakan akar tempat kamu tumbuh.”

“Ayah… Hamja akan belajar keras. Akan jadi orang yang Ayah banggakan.”

“Ayah sudah bangga dari kamu pertama belajar mengeja,” jawab Pak Salim sambil menahan suara yang nyaris pecah.

Hamja naik ke atas kapal. Di tangan kirinya tergenggam kuat tas kecil. Di tangan kanannya sebuah buku catatan, yang kini kosong di separuh halamannya. Ia ingin menuliskan bab baru dalam hidupnya. Tapi di halaman paling depan, ia sudah tuliskan satu kalimat sederhana:
*_“Aku berjalan di jalan yang Ayah bukakan.”_*

Kapal mulai berjalan perlahan meninggalkan pelabuhan. Tanjung dodola, menutup pandangan. Tapi dari atas kapal, Hamja masih bisa melihat ayahnya berdiri di pinggir jembatan, melambaikan tangan dengan mata sembab.

Di dalam hatinya, Hamja tahu: jalan yang ia tempuh bukan dibuka oleh kemewahan, bukan oleh harta, bukan pula oleh kekuasaan. Jalan itu dibuka dengan kapak dan peluh, dengan malam-malam tanpa makan cukup, dengan sepatu tambalan dan seragam robek, dengan sabar dan doa yang tak pernah terdengar. Dan ia sadar sepenuhnya—apa yang ia capai adalah buah dari keberanian seorang lelaki sederhana bernama Pak Salim, yang tidak pernah menyerah walau segala hal tampak mustahil.

Sejak hari itu, Pak Salim kembali ke kebunnya. Kapaknya tetap setia menemaninya. Tapi kini, setiap kali ia menebas semak atau memotong batang kayu, pikirannya melayang jauh ke kota tempat Hamja belajar. Ia tak tahu bagaimana dunia di sana, tak paham seperti apa asrama atau komputer yang digunakan Hamja. Tapi ia percaya: anaknya akan baik-baik saja.
Setiap malam, sebelum tidur, Pak Salim membuka kembali amplop ijazah Hamja. Ia menatapnya lama. Di balik kertas itu, ia melihat lebih dari sekadar nilai dan tanda tangan. Ia melihat bayangan dirinya sendiri, bertahun-tahun lalu, memanggul kayu, mengangkat kapak, dan berjanji dalam diam:
“Aku tak punya apa-apa. Tapi aku akan beri anakku segalanya yang bisa kutanam.”
Dan kini, benih itu telah tumbuh. Di jalan yang ia bukakan—dengan peluh, dengan doa, dan dengan cinta.
TAMAT

IMG-20260420-WA0020
previous arrow
next arrow
IMG-20260423-WA0117
previous arrow
next arrow
images - 2026-04-22T235051.720
previous arrow
next arrow
FB_IMG_1776869755543
previous arrow
next arrow

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *