Reporter : Odhe
Editor : Redaktur
Halteng, Teropong malut.com – Daerah yang saat ini menjadi kawasan industri nickel dan objek vital terbesar di wilayah Asia yakni Kabupaten Halmahera Tengah (Halteng) Provinsi Maluku Utara (Malut) sehingga wilayah ini menjadi incaran Investor-investor raksasa dunia.
Namun, kenyataannya hasil yang diperoleh masyarakat (rakyat) dari aktivitas Investor adalah kecelakaan kerja (laka), upah murah, pengrusakan lingkungan, penggusuran, kekerasan, pemerkosaan, pendidikan mahal, kesehatan mahal, BBM mahal, tak ada jaminan sosial, korupsi merajalela, pembungkaman ruang demokrasi, intimidasi, dan lain-lain.
Untuk itu, melalui gerakan Aliansi Persatuan Buruh dan Rakyat bersama pemuda weda pada Rabu, (18/5/2022) pukul 15.30 WIT sore ini bertujuan menyampaikan pendapat dan unek-unek yang dialami masyarakat Halteng secara terbuka.
Sudah tentu yang akan disampaikan adalah soal kesejahteraan dan keadilan yang terkesan tak diperjuangkan oleh para elit/oligarki. Sehingga aksi yang sederhana ini kami mengajak kepada masyarakat dan terutama para pemuda untuk bersama-sama bergandeng tangan untuk melawan segala bentuk kezaliman yang terjadi di daerah ini.
Adapun poin tuntutan pada aksi tersebut diantaranya : Memaksimalkan pelayanan listrik dan pelayanan jaringan internet di Halteng, wujudkan pendidikan dan kesehatan gratis baik pelajar, mahasiswa dan swasta (karyawan), hentikan pengrusakan hutan dan tolak tambang di wilayah Patani, lindungi daerah aliran sungai (DAS) Talaga Legae Lol dan Goa Boki Maruru dari ancaman industri tambang, memaksimalkan K3 dan naikkan upah yang layak bagi buruh.
Pemda harus desak perusahaan segera audit dan melaporkan kasus-kasus kecelakaan kerja di kawasan industri kepada masyarakat, hentikan pembungkaman ruang demokrasi buruh serta stop intimidasi gerakan buruh, pemuda mahasiswa dan jurnalis (wartawan) serta masyarakat.
Aksi ini juga meminta usut tuntas kasus pembunuhan di hutan kali Gowonle Patani Timur, hentikan kekerasan seksual dan pemerkosaan terhadap perempuan dan anak, cabut UU Cipta kerja, turunkan harga BBM, minyak goreng, dan kebutuhan pokok lainnya.
Stop permberangusan Sarikat Buruh dan berikan seluas-luasnya kebebasan demokrasi buruh untuk membangun Sarikat di luar kawasan industri (Independen), utamakan pekerja lokal di Halteng, jalur treak organda, penyediaan alat angkutan laut bagi karyawan PT IWIP.
Amatan pada aksi tersebut menggunakan satu unit mobil pic up warna putih DG 8219 S dan dua unit sound, dan satu unit mic, dan sejumlah spanduk. Aksi penyampaian pendapat terbuka itu di mulai dari bundaran Kota Weda desa Were, Pasar Tradisional Kota Weda desa Fidi Jaya Kecamatan Weda dan dilanjutkan di Polres Halteng.
Bertindak sebagai kordinator lapangan (Korlap) dalam aksi penyampaian pendapat terbuka tersebut adalah Aslan dan Akbar Kasubeng.
















