Teropongmalut.com – Di tengah gegap gempita perayaan Hari Ulang Tahun ke-80 Republik Indonesia, sebuah potret kecil di lapangan Sultan Hasanuddin, Kabupaten Gowa, mengoyak hati banyak orang.
Bukan karena meriah upacaranya, bukan pula karena mewah jamuan para pejabatnya, melainkan karena dua bocah kecil yang terciduk memungut sisa makanan pejabat usai seremoni sakral itu.
Vedio sederhana yang diunggah ke media sosial itu menuliskan lirih: “Lihat rakyatmu ini, Pak Presiden… inilah kado HUT RI ke-80.”
Dalam hitungan jam, unggahan itu mengguncang jagat maya: 6.368 suka, 1.634 komentar, dan 1.648 kali dibagikan. Gelombang emosi publik pun pecah—antara sedih, marah, dan getir—menyisakan pertanyaan yang menusuk: di mana arti merdeka, jika di pangkuan pesta kemerdekaan, anak-anak bangsa masih berebut sisa nasi dari lantai kehormatan pejabat?
Hashtag #Hutri #HUTRI80 #Gowa #Bocil #Korupsi #Tikusnerdasi #Tikuskantor #Rakyatkevil menjelma menjadi jeritan sunyi rakyat kecil, sebuah sindiran yang lebih nyaring dari pidato pejabat mana pun.
Seolah Tuhan ingin menitip pesan, bahwa di balik jas rapi dan kursi empuk, masih ada perut kecil yang lapar. Dan di tengah gegap gempita kemerdekaan, sepotong nasi sisa lebih berarti daripada seribu kata manis pejabat yang penuh janji. (Odhe/Red)
















