Gamutu Tikep Gelar Diskusi Soal Kekerasan PA, Hadirkan Dua Narsum

Reporter : Bur
Editor : Odhe

SOFIFI, Teropongmalut.com – Dalam rangka upaya melawan tindak kekerasan dan pelecehan seksual terhadap Perempuan dan Anak (PA) yang sering terjadi di Kota Tidore Kepulauan, milenial Generasi Muda Mafututu (Gamutu) gelar diskusi yang bertajuk “Kekerasan Seksual” Sabtu, (13/8/2022) kemarin.

Foto diskusi Gamutu Mafututu

Diskusi itu diselenggarakan atas dasar karena semakin memprihatinkan kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di wilayah Provinsi Maluku Utara, khususnya di Kota Tidore Kepulauan. Untuk memperjelas apa dan bagaimana cara menangani masalah kekerasan seksual tersebut maka Gamutu mengundang dua narasumber (Narsum) yang berkompeten di bidangnya.

Narasumber Pipin Jamson yang juga sebagai Dosen Fisipol UGM yang saat ini sedang menyelesaikan studi Doktoral di Universitas Melbourne. Dia berbicara dalam aspek membangun gerakan solidaritas yang berpihak kepada korban kekerasan seksual. Sementara narasumber Dr Udin Hamim, adalah Dosen Universitas Negeri Gorontalo yang juga adalah penasehat Gamutu.

Menurut Pipin Jamson ada tiga segitiga kekerasan seksual. Sudut pertama segitiga menjelaskan tentang kekerasan langsung siapa yang melakukan (subjek) dan dikenai kekerasan (objek) tampak, langsung menyakiti baik secara fisik, verbal maupun psikis, misalnya memperkosa, menghina dan mengancam.

Sudut kedua segitiga menjelaskan tentang kekerasan struktural siapa yang melakukan kekerasan (subjek) tidak tampak karena terjadi secara sistemik dan terlembaga, misalnya kebijakan yang diskriminatif terhadap gender tertentu. Sudut ketiga segitiga menjelaskan tentang kekerasan kultural kekerasan terjadi bukan karena subjeknya, tetapi karena dibiarkan terjadi, dianggap normal dan dibenarkan, misalnya kultur menyalahkan penyintas kekerasan seksual (victim blaming).

Sedangkan Narsum Dr Udin Hamim mengemukakan persoalan mendasar atas akar kekerasan seksual. Menurutnya kasus kekerasan seksual yang terjadi bukan pada dasar cara berpakaian, bukan karena status pendidikan seseorang. Perilaku kekerasan seksual terjadi akibat dari pada akhlak dan adab yang tidak baik. Akhlak dan adab inilah yang menjadi sumber utama masalah kasus kekerasan seksual.

Ko Udin juga bilang, Generasi Muda Mafututu (Gamutu) bisa bekerjasama dengan Universitas Bumi Hijrah (Unibrah) untuk menjadikan Mafututu sebagai kampung binaan bebas dari kekerasan seksual terhadap perempuan dan anak. Tak hanya itu, perangkat adat juga bisa diaktifkan untuk terlibat aktif dalam persoalan pencegahan dan penanganan kasus tersebut,” ajaknya.

Sebagai solusi untuk menyelesaikan persoalan kekerasan seksual tersebut adalah dengan mengaktifkan kolektif substansial. Kolektif subtansial ini tidak sekedar kegiatan seremonial belaka, tidak sekedar buka acara sana-sini, tidak cukup dengan sosialisasi saja. Namun kolektif subtansial ini adalah penjabaran atas program hingga ke unsur terkecil masyarakat (keluarga) dan mengimplementasikanya secara konkrit pada lingkungan pendidikan dan lingkungan masyarakat,” ungkapnya.

Dialog yang dimoderatori oleh Presidium Gamutu Gofur yang juga sebagai Kepala Perpustakaan Universitas Bumi hijrah ini berakhir dengan lancar dan sukses. Dialog ini dihadiri berbagai kalangan akademisi, ada dari STIKES Kemenkes Ternate, Universitas bumi Hijrah (Unibrah).

IMG-20260420-WA0020
previous arrow
next arrow
IMG-20260423-WA0117
previous arrow
next arrow
images - 2026-04-22T235051.720
previous arrow
next arrow
FB_IMG_1776869755543
previous arrow
next arrow

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *