TROTOAR
Catatan Kecil Untuk Pemerintah Kota Ternate, Dari Seorang Perintis Jalanan
IKSAN MUHAMAD
Kamerad Gerakan Mahasiswa Pemerhati Sosial (GAMHAS)
TROTOAR pada umumnya digunakan para pejalan kaki untuk beraktifitas dalam keseharian mereka,ini merupakan fungsi dari trotoar itu sendiri. Kini fungsi tersebut telah berubah, trotoar bukan hanya digunakan oleh pejalan kaki, namun trotoar juga digunakan oleh para pengemudi kendaraan roda dua (ojek) sebagai sentral (pangkalan) tukang ojek, bahkan dapat disaksikan ruas-ruas trotoar dapat dipenuhi oleh para pedagang kaki lima (PKL). Hal ini seolah-olah pemerintah kota melegitimasi para PKL dan tukang ojek dalam melakukan aktifitasnya diatas trotoar,ini membuat trotoar sepi dari pejalan kaki dengan kehadiran para PKL dan tukang ojek tersebut.
Secara faktual dilapangan, keberadaan pedagang kaki lima (PKL) dan tukang ojek kini kian tergantung pada trotoar. Ketika trotoar yang digunakan para PKL sebagai tempat berjualan telah memberikan kostribusi yang menjanjikan. Karena trotoar menjadi tempat perputaran ekonomi masyarakat kelas bawah yang ada dikota ini dalam menyambung hidup dan telah terbangun interaksi sosial yang begitu intens diantara masyarakat. Memang menarik jika ditelitik lebih jauh, pembanguanan trotoar yang kini berubah fungsi, ternyata begitu memberikan konstribusi terhadap masyarakat. akan tetapi, juga berdampak pada keteraturan sosial (social order). Karena pejalan kaki lebih cenderung mengikuti ruas jalan raya dengan demikian mengganggu para pengguna jalan raya (roda dua dan empat).
Keberadaan PKL dan tukang ojek selain mengganggu pejalan kaki, juga menyumbang stok sampah dengan kapasitas besar. Sehingga diberbagai ruas jalan pun dipenuhi oleh sampah yang berhamburan disaat musim hujan datang, pada saluran-saluran air yang tersumbat. Bahka dapat menyebabkan banjir dan mengenangi rumah warga. Hal demikian terjadi karena para PKL membuang sampah pada selokan-selokan yang letaknya dibawa trotoar tempat jualan mereka. Bahkan kebanyakan para PKL yang berjejeran menghiasi ruas trotoar yang ada, kebanyakan mereka kurang memperdulikan “LINGKUNGAN” sekitar. Sehingga kerusakan lingkungan dapat dipastikan terjadi, apalagi sampah-sampah yang diproduksi merupakan sampah non-organik yang tidak ramah lingkungan tentunya. Ini akan berdampak lebih buruk lagi dalam waktu yang cukup lama.
Di sisi yang lain, di tengah-tengah trotoar dipenuhi pot-pot bunga dan pepohonan yang ditanami oleh pemerintah dengan maksud agar terjadi penghijauan kota dan juga kelihatan indah karena ada pot-pot yang memakai ukiran. Namun membuat pejalan kaki merasa terganggu ketika berjalan diatasnya, sehingga trotoar sudah tidak lagi menjadi jalan alternatif bagi pejalan kaki. Hal ini membuat pejalan kaki tidak lagi menggunakan trotoar yang semestinya. Sehingga seringkali para pejalan kaki lebih berantusias melakukan aktifitas dengan menggunakan jalan raya. Kalaupun dibiarkan terus menerus tanpa ada perhatian dari pemerintah kota Ternate, dalam menertibkan fungsi trotoar maka, pembangunan trotoar dengan menggunakan uang rakyat yang begitu banyak ternyata hanyalah membuang-buang anggaran semata.
Selain itu memang diakui bahwa kota Ternate yang mungil ini jauh lebih berprestasi dalam kebersihan dan tata kota. Bahkan sudah beberpa kali kota ternate sudah mendapatkan penghargaan kota Adipura Tinggkat Nasional, tentunya hal demikian dapat lebih disoroti sebagai bentuk prestasi yang diraih. Jangan sampai Adipura yang menjadi idaman warga kota dan pemerintah yang setiap tahun diraih itu hanya menjadi catatan sejarah yang dikenang. Adipura sebagai lambang kota yang bersih, tapi faktanya dipenuhi dengan sampah.
Penataan Lokasi PKL
Salah satu yang masalahkan yang sering dihadapi oleh pemerintah dalam menyelesikan masalah PKL ialah tempat yang disediakan oleh pemerintah untuk PKL jarang ditempati, hal ini disebabkan karena tempat yang disediakan oleh pemerintah tidaklah strategis dan bahkan jauh dari keramaian sehingga hal demikian dianggap sangatlah merugikan bagi PKL yang terbiasa berjualan ditempat-tempat yang ramai dan juga tentunya menguntungkan. Bahkan tidak jarang kita temukan para PKL dengan sengaja berjualan ditempat-tempat yang dilarang oleh pemerintah padahal kita temukan tempat baru yang telah disediaka oleh PKL. Untuk itu, pemerintah harus lebih cerdas lagi melihat lokasi baru yang akan digunakan oleh para PKL. Hal demikian juga tentunya pemerintah sebagai pengambilan kebijakan tertinggi daerah dapat menempatkan lokasi baru untuk para PKL ditempat yang strategis denga kata lain daerah/lokasi baru yang dibangun tidak terlalu jauh dari tempat keramaian sehingga dapat dengan mudah di jangkau oleh para pembeli.
Penataan Kembali Pot Bunga Dan Pohon
Selain menyediakan lokasi baru untuk para PKL, tentunya harus ada juga langkah kongkrit yang diambil pemerintah dalam penetaan kembali sebagai bentuk penataan ulang pemohonan kota dan bunga;bunga jalanan yang sangat menggangu para pejalan kaki. Memeng benar kiranya penanaman pohon kota dan bunga jalanan tentu sangat bermanfaat bagi warga kota karena selain sebagai sebagai penyaring polusi (Kendaraan),pepohonan kota juga sangat membantu memperindah penataan tata ruang kota. Akan tetapi, hal ini dilakukan sejauh tidak mengganggu para pejalan kaki sebagai pengguna. Penataan kembali pepohonan juga bukan dalam artian kepentingan masyarakan yang notabene-nya bergantung pada trotoar dalam melakukan aktifitas kesehariannya.
Dengan langkah-langkah kongkrit diatas, kiranya persoalan yang dianggap urgen tersebut dapatlah diatasi secara baik. Hal ini juga tentunya sebagai langkah alternative yang harus diambil pemerintah kita Ternate sehingga semuanya merasa tidak dirugikan dalam kebijakan yang diambilnya tersebut. Terlebihnya lagi fungs trotoar mampu di kembalikan sebagai tempat aktivistas para pejalan kaki. Semoga, terima kasih.
















