MSI Cabang Malut Gelar FGD Telusuri Hari Jadi Kepsul

Sula-TeropongMalut.com, Pada Sabtu tanggal 13 November 2021, Tim Riset Masyarakat Sejarah Indonesia (MSI) Cabang Maluku Utara melakukan FGD penelusuran Hari Jadi Kepulauan Sula bersama Tokoh agama, Pemerhati budaya dan sejarah serta Dosen IAIN Sanana berlangsug di Benteng Fort De Verwachting Sanana.

FGD ini dilakukan untuk menelusuri sumber-sumber sejarah baik sumber tertulis maupun sumber-sumber lisan yang dituturkan oleh penutur secara terun temurun. Demikian dijelaskan Ketua MSI Cabang Maluku Utara Dr Syahril Muhammad, kepada TeropongMalut.com melalui rilis yang dikirim ke redaksi pada Sabtu.


Dalam diskusi itu ada beberapa hal yang menjadi perdebatan yang berkaitan dengan penamaan kepulauan Sula dilihat dari aspek sejarah dan kebudayaan lokal, khusus Sejarah dan budaya lokal di kepulauan Sula.


Diskusi diawali dengan pengantar oleh ketua Tim Riset Hari Jadi Kepulauan Sula Dr. Syahril Muhammad. M.Hum, dalam pengantarnya menjelaskan tentang dasar pertimbangan hari jadi kab/kota adalah:

(1) Usia penamaan yang paling tua mampu menumbuhkan perasaan bangga dan mempunyai keterkaitan batin yang kuat terhadap masyarakat (2) Memilki ciri khas yg mampu membawa pengaruh nilai budaya (3) Bersifat indonesia sentris, yang dapat semakin menjelaskan peranan ciri keindonesiaan tanpa menyalagunakan obyektifitas sejarah (4) Mempunyai nilai historis yang tinggi, mengandung nilai dan bukti sejarah yang dapat membangun semangat dan rasa kagum atas jasa dan pengerbonan nenek moyang kita dan (5) Merupakan peninggalan budaya masyarakat yang murni, tidak terpengaruh oleh budaya kolonial.


Dari pertimbangan itu maka peserta diskusi memberikan saran dan masukan kepada tim riset Hari Jadi Kepulauan Sula agar titik penetapan Hari Jadi lebih diarahkan pada penobatan Salahakan Sula oleh kesultanan Ternate pada tahun 1575 sebagai penguasa tingkat lokal.

Dimana Salahakan menjalankan pemerintahan dibantu oleh Sangaji-Sangaji dari 4 Yalai atau suku terbesar di sula. Baik Salahkan maupun Sangaji Sangji semuanya dipilih dan diangkat atas prsetujuan Sultan. Ke-4 Suku Yafai yaitu Yafai Fatce ,Yafai Fagudu ,Yafai Faahu dan Yafai Mangon.

Yafai Fatce menempati wilayah barat pulau Sula Besi, bagian selatan di tempati Yafai Fagud dan bagian utara oleh Yafai Faahu. Sedangkan di Bagian timur ditempati Yafai Mangon. Pada wilayah-wilaya ini mereka hidup berpencar dan di pegunungan maupan di pesisir pantai dengan beberapa keluarga berdasar kepala soa-soa tertentu.

Mereka kemudian dikenal dengan nama Matapia sua atau orang sula yang didalamnya termasuk masyarakat Fogi, yang waktu itu masih mendiami daerah pegunungan.


Dari diskusi tersebut merujuk pada beberapa fase yang terjadi pada masa lalu di Kepulauan Sula adalah:


Tahun 1575 fase ini adaalah penobatan Salahakan di Kepulauan Sula. Jika pada tahun 2021 kita tetapkan hari jadi sula maka kepulauan Sula sudah berusia 446 tahun.


Tahun 1623. Fase ini adalah fase pembangunan benteng yang dikenal dengan nama Het Klaverblad. Jika fase ini digunakan untuk menetapkan Hari Jadi Kepulauan Sula, maka Sula sudah berusia 398 tahun.


Tanggal 24 Desember 1790. Fase ini adalah fase pemugaran benteng Fort De Verwachting sebagai pertahanan peninggalan Kolonial Hindia Belanda. Jika penetapan Hari Kepulauan Sula pada fase ini maka usia Kepulauan Sula 231 Tahun. (Tim/red)

IMG-20260525-WA0024
previous arrow
next arrow
IMG-20260524-WA0021
previous arrow
next arrow
IMG-20260525-WA0027
previous arrow
next arrow

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *