Dugaan Money Politik Guncang Pilkades Sidanga

“Kemenangan Yuvensius Limor dalam Pilkades Desa Sidanga terus dibayangi sorotan tajam. Dugaan praktik politik uang, minimnya transparansi administrasi pencalonan, hingga polemik dokumen ijazah memantik keresahan dan tanda tanya besar di tengah masyarakat”.

HALTENG — Gelombang kontroversi pasca Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) Sidanga, Kecamatan Weda, Kabupaten Halmahera Tengah, kian memanas. Kemenangan calon nomor urut 3, Yuvensius Limor, kini tidak hanya menjadi perbincangan warga, tetapi juga memicu sorotan serius terkait dugaan praktik politik uang dan persoalan administrasi pencalonan yang dinilai tidak transparan.

Pilkades yang diikuti empat kandidat yakni Elda Cristian Lalatang, Jose Grigorio Limor, Yuvensius Limor, dan Hernimus Kumai itu sebelumnya berlangsung sengit. Namun usai hasil pemungutan suara diumumkan dan Yuvensius Limor dinyatakan unggul dengan raihan 243 suara, berbagai tudingan mulai bermunculan ke permukaan.

Sejumlah warga menduga kemenangan tersebut tidak berlangsung secara bersih. Dugaan praktik “money politics” disebut terjadi secara terorganisir dan menyasar pemilih menjelang pencoblosan.

Informasi yang dihimpun media menyebutkan beberapa warga mengaku menerima uang yang diduga berkaitan dengan kepentingan pemenangan calon tertentu. Leser Kumai disebut menerima Rp1 juta dari pihak yang diduga tim pemenangan. Desi Jelajela mengaku menerima Rp400 ribu yang disebut diberikan langsung oleh Yuvensius Limor.

Selain itu, Junior Kumai dikabarkan menerima Rp200 ribu dari tim pemenangan, sementara Il Jelajela juga disebut menerima pemberian serupa.

Meski demikian, hingga berita ini diterbitkan belum terdapat putusan hukum ataupun pembuktian resmi dari aparat penegak hukum terkait dugaan tersebut.

Tak berhenti pada isu politik uang, polemik lain ikut menyeret perhatian publik. Warga mulai mempertanyakan transparansi dokumen administrasi pencalonan, khususnya terkait legalitas ijazah milik Yuvensius Limor.

Berdasarkan informasi yang diperoleh media, dokumen pendidikan yang digunakan saat proses verifikasi disebut hanya berupa surat keterangan lulus. Sementara di berbagai kesempatan, Yuvensius Limor mengaku sebagai lulusan SMU PGRI.

Situasi semakin memantik kecurigaan warga lantaran panitia Pilkades dinilai tidak membuka secara transparan dokumen pemberkasan para calon kepada publik. Minimnya keterbukaan tersebut memunculkan spekulasi liar dan memperbesar krisis kepercayaan masyarakat terhadap proses demokrasi di tingkat desa.

“Kalau semua dokumen clear, kenapa tidak dibuka secara terang ke masyarakat?” ujar salah seorang warga yang meminta identitasnya dirahasiakan.

Di tengah derasnya tudingan, pihak tim pemenangan Yuvensius Limor justru menantang pihak-pihak yang menuding adanya praktik politik uang agar menempuh jalur hukum apabila memiliki bukti kuat.

Kontroversi Pilkades Sidanga bahkan melebar ke media sosial. Istri Yuvensius Limor, Wisye Burnama, ikut menjadi sorotan setelah mengunggah status bernada sindiran yang ramai diperbincangkan warga.

“Haya… tara mampan sayang, tara mampan…. Tara mampan cari lagi cara lain sampe suak… lancarkan fitnah sampe dunia tatawa.. haya..,” tulis Wisye dalam unggahannya.

Saat dikonfirmasi media, Yuvensius Limor membantah keras seluruh tudingan yang diarahkan kepadanya, termasuk isu politik uang.

“Itu tidak benar. Kami mau ambil uang sebanyak itu dari mana?” ujarnya, Rabu (27/5/2026).

Ia juga menepis keraguan terkait dokumen ijazahnya dan menegaskan dirinya benar pernah bersekolah serta lulus dari SMU PGRI.

“Kalau dibilang tidak ada ijazah itu tidak benar,” tegasnya.

Hingga kini, polemik Pilkades Sidanga masih terus bergulir dan menjadi perhatian masyarakat. Warga mendesak agar seluruh dugaan yang mencuat dapat ditelusuri secara terbuka, profesional, dan transparan demi menjaga marwah demokrasi desa serta menghindari konflik sosial yang lebih luas. (Odhe/Red)

IMG-20260525-WA0024
previous arrow
next arrow
IMG-20260524-WA0021
previous arrow
next arrow
IMG-20260525-WA0027
previous arrow
next arrow

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *