Sebuah Puisi Untuk Wadas, Sebagai Bentuk Empati Dari Timur Indonesian Terhadap Kemanusian
Desa Wadas, Kabupaten Purworejo, Provinsi Jawa Tengah, kini terancam kelangsungan hidup warganya akibat rencana pertambangan batu andesit untuk material bendungan Bener.
Negara Abstain, warga wadas berjuang sendiri melawan tambang perusak alam.
Dimana ada tambang disitu ada penderitaan dan kerusakan lingkungan.
Di alur pemaksaan belakang monitor
Bertumpuk ruah dollar investor
Mentahan mafia hutan siap menggali bumi
Kesepakatan jahat lebih mahal dari nyawa-nyawa tani.
Dibawah cakram langit depan kaki bukit
Meski sulit yang bertahan kian berlawan
Menghadapi para perampas, oligarki setan alas
Wadas Melawan dengan panjang napas tak kenal batas.
Lebih baik gugur berjuang daripada tergusur dan terbuang.
Seperti kata Pramoedya; orang yang tak pernah mencangkul tanah, justru paling rakus menjarah tanah.
Rentetan ketidak-adilan menerpa warga wadas
Sejak 2013 di rencanakan menjadi tambang Quarry
Memperpanjang nafas gerakan, aliansi bawahtanah beri kepalan puisi dari sini.
Suara penolakan sudah nyaring dimana-mana
Tapi mengapa mereka begitu bebal, dan menghalalkan segala cara?
Proyek Strategis Nasional
Pembangunan Mega proyek
Menggarap lahan produktif
Intimidasi begitu masif.
Ulangi mantra sang Ganjar
“tuanku ya rakyat,
gubernur cuma mandat”
Tapi kok, buat apa minta maaf kalau nyatanya pengukuran terus berjalan.
Pengrusakan alam atas nama pembangunan
Ratusan polisi dikerahkan
Buzzer-buzzer menyulut api dengan argumen-argumen pesanan.
Tempat dan sempat,
Aparat selalu jadi alat
Di jerit tangis Wadas kita melihat wajah negara begitu keras.
Terlihat kan? pemerintah memainkan narasi untuk mengkonter isu
Akibatnya terpecah belah warga yang di adu.
Nilai-nilai kebersamaan dan penghargaan pada alam yang dirawat perempuan Wadas, tentu tidak bisa digantikan dengan uang.
Mau ganti rugi ataupun ganti untung
Warga tetap buntung, masa depan generasi dan riwayat kampung akan pincang terkatung-katung.
Kehilangan mata pencaharian, sumber pangan dan mata air.
Seluruh taktik busuk itu sudah di anulir. Tuhan berkemah bersama doa perjuangan Wadon Wadas.
Ternate, 2022
Karya: Muhammad Fadly Jufri
(KingLaef)
Keterangan:
-Abstain: menjauhkan diri.
-Pramoedya (dibaca pramudya) : salah satu penulis hebat indonesia.
-Tambang Quarry: sistem tambang dengan bahan peledak yang ditanam di dalam tanah. Batu-batuan hasil ledakan diambil untuk pembangunan bendungan.
-Wadon Wadas: ibu-ibu Wadas yang berjuang mempertahankan tanahnya.
Terima kasih-Puisi pamflet ini disusun untuk mendukung perjuangan Wadas. Lahir dari berbagai sumber referensi yang valid dan percakapan bawahtanah D’facto dan KingLaef. (Mursal)














