Reporter : Odhe
Editor : Redaksi
HALTENG, Teropongmalut.com – Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kabupaten Halmahera Tengah (Halteng) Provinsi Maluku Utara (Malut) Selasa, (30/8/2022) pukul 22.00 WIT menggelar diskusi yang bertema “Nelayan Halteng Dimata Bung Badar dan Sahrun”.
Diskusi perihal tema diatas yang bertempat di Monocrome Cafe desa Loiteglas Kecamatan Weda Kabupaten Halmahera Tengah Provinsi Maluku Utara itu di monotori oleh Ketua DPC HNSI Halteng Badar Manai dan Sekretaris DPC HNSI Halteng Sahrun Jafar.
Dalam diskusi itu, Ketua DPC HNSI Halteng Badar Manai menyampaikan bahwa Nelayan Indonesia khususnya di Kabupaten Halmahera Tengah adalah pahlawan protein bangsa. Namun, pemerintah baik pusat, provinsi bahkan daerah dinilai tak memperdulikan kesejahteraan masyarakat nelayan.
Ketua DPC Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kabupaten Halmahera Tengah, Badar Manai dalam pandangannya mengatakan bahwa laut adalah hidup dan nafas bagi nelayan.
Kehidupan nelayan adalah laut teluk Weda dalam mencari rezeki dari kekayaan alam, laut adalah hidup dan nafas bagi mereka. Kehidupan para nelayan hari demi hari berasal dari jerih payah dan peluh mereka di perairan teluk Weda. Namun, hadirnya Investasi Industri raksasa PT Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP) di teluk Weda Kabupaten Halmahera Tengah Provinsi Maluku Utara dapat merubah warna air laut teluk menjadi coklat ibarat kopi susu.
Badar Manai juga bilang meskipun Investasi Industri adalah upaya pemerintah untuk menaikkan kualitas hidup para karyawan. Namun, tidak terlepas kepedulian pemerintah terhadap masyarakat nelayan. Karena kalau hanya memperhatikan Investasi Industri merupakan sebuah bentuk ketidakpedulian dan penindasan terhadap masyarakat nelayan,” tandasnya.
Badar juga mengaku kini hadirnya Sahrun Jafar yang dinilai peduli, dan berpihak pada rakyat kecil. Bahkan kata pria kelahiran Tepeleo ini berniat baik melakukan upaya persatuan kepada sesama nelayan di Teluk Weda,” pungkasnya.
Sementara pandangan Sekretaris DPC HNSI Halteng Sahrun Jafar menyatakan kekecewaannya terhadap Investasi Industri PT IWIP. Diantara keluhan para nelayan yang dihimpun yaitu soal keruhnya air laut di teluk Weda yang menjadi penyebab utama berkurangnya hasil tangkapan mereka. Bahkan para nelayan dengan perahu kecil sudah tidak dapat melaut sama sekali, yang artinya mereka tak dapat lagi menghidupi keluarganya.
“Kalau nelayan pesisir teluk weda ini sudah tak melaut, mau makan apa kita masyarakat nelayan? Yang nikmatin siapa Investasi Industri adalah orang-orang cerdas yang memiliki jabatan tertentu.
Sebenarnya para nelayan bersama organisasi lingkungan hidup WALHI harus melakukan perlawanan untuk menggugat pihak Investasi Industri yang telah merusak lingkungan dan telah merusak mata pencaharian nelayan. Hal ini juga berdampak besar pada kerusakan lingkungan. Namun sejauh ini pemerintah tak pernah mengeluarkan moratorium yang berisi penghentian sementara aktivitas industri raksasa tersebut,” tuntas Sahrun Jafar yang juga mantan anggota DPRD Halteng ini.
















