HALTENG, TM.com — Kontroversi kembali mencuat setelah seorang yang mengklaim diri sebagai penasihat hukum Elang-Rahim menyampaikan pernyataan tidak berdasar di media, disertai kehadiran Rahim Odeyani dan Nuryadin Ahmad. Masyarakat Halmahera Tengah dan Maluku Utara menyayangkan sikap ini, mengingat sengketa Pilkada merupakan hal biasa dalam demokrasi, dan Mahkamah Konstitusi memiliki otoritas penuh untuk memutuskan perkara sesuai hukum.
Ironisnya, tindakan dan pernyataan mereka justru mencerminkan ketidakmampuan dalam memahami dan mempraktikkan demokrasi elektoral. Jika mereka mengaku politisi, mengapa tidak mampu membangun narasi demokrasi yang mendidik? Sebaliknya, mereka lebih menyerupai anak ingusan yang hanya mampu curhat tanpa memahami regulasi dan proses demokrasi. Politik elektoral seharusnya menjadi seni membangun kepercayaan publik, bukan sekadar ajang melampiaskan emosi,” tegas Hamdan Halil jubir Tim Paslon IMS-ADIL kepada media ini Ahad, (15/12/24) sore tadi.
Sejak awal pendaftaran hingga masa kampanye, pasangan Elang-Rahim lebih banyak mempertontonkan hujatan, narasi kasar, dan politik primordial yang sempit. Berbeda dengan pasangan IMS-ADIL, yang selalu menyampaikan visi-misi serta program konkret yang dekat dengan kebutuhan rakyat. Kampanye IMS-ADIL menciptakan suasana cair, penuh keakraban, dan kegembiraan, sejalan dengan karakter mereka yang ikhlas dan bersahaja. Tak ada ruang untuk hujatan atau provokasi, hanya senyuman tulus dan kedekatan dengan rakyat yang menjadi ciri khas.
Debat kandidat juga mengungkap perbedaan mencolok. Kapasitas pasangan IMS-ADIL jauh di atas Elang-Rahim. Edi Langkara terlihat lemah dalam mengendalikan emosi, sementara Rahim hanya bergantung pada catatan tanpa menunjukkan kapasitas sebagai politisi yang mumpuni. Rakyat dengan mudah menilai siapa yang layak menjadi pemimpin Halmahera Tengah.
Hasil Pilkada berbicara jelas. IMS-ADIL meraih lebih dari 58% suara, menang di 56 desa, sementara Elang-Rahim hanya unggul di 4 desa, dan Mustika di 1 desa. Tingkat kemenangan ini mencerminkan kepercayaan besar rakyat kepada IMS-ADIL. Pilkada kali ini juga berjalan aman dan lancar, tanpa PSU dan tanpa intimidasi, berbanding terbalik dengan tiga Pilkada sebelumnya yang penuh konflik.
Alih-alih terus mencari kambing hitam, Elang-Rahim sebaiknya melakukan introspeksi. Politik identitas dan primordial yang mereka bungkus dengan jargon Fagogoru ternyata gagal meyakinkan rakyat. Justru falsafah Fagogoru yang sesungguhnya tercermin dalam sikap dan kebijakan IMS-ADIL. Rakyat Halmahera Tengah telah memilih dengan hati, dan pilihannya jelas: kepemimpinan yang mendidik, bersahaja, dan mempersatukan. (Odhe)














