Kapak dan Buku
TeropongMalut.com, Satu tangan memegang kapak, menebas semak demi sesuap nasi. Tangan lainnya membuka buku, mencatat mimpi di sela rumput yang dicabut. Di tengah kebun, dua dunia saling bersandar, saling kuatkan.

Sinar matahari menembus celah-celah daun pepaya, memantul lembut di permukaan tanah kebun yang masih basah. Udara pagi mulai menghangat, menyisakan sisa embun yang belum sempat menguap dari rumput-rumput liar. Di kebun milik Pak Salim, terdengar suara kapak yang berulang kali menebas batang kayu dan semak liar. Irama itu nyaris seperti lagu, ritmis dan penuh tujuan.

Pak Salim mengusap keringat yang mengalir dari pelipisnya. Tubuhnya mulai pegal sejak kemarin, tapi ia tak sempat mengeluh. Sore nanti, ia harus mengantar beberapa potong kayu bakar ke rumah Pak Kades. Katanya, kalau kualitasnya bagus, Pak Kades akan membeli rutin untuk keperluan dapurnya yang besar.

Di sela-sela ayunan kapaknya, Pak Salim teringat Hamja. Anak itu sekarang lebih rajin dari sebelumnya. Sejak pengumuman seleksi beasiswa dari kabupaten, semangat belajar Hamja seperti tak pernah padam. Tapi bukan hanya belajar di sekolah, Hamja juga mulai rajin membantu di kebun sepulang sekolah.

Sore itu, setelah lonceng sekolah berbunyi, Hamja langsung berlari kecil menuju rumah. Ia hanya sempat mengganti bajunya, meneguk seteguk air dari kendi, lalu segera menyusul ayahnya ke kebun.
“Sudah belajar?” tanya Pak Salim tanpa menoleh, sambil terus menebas semak.
“Sudah, Yah. Tadi ulangan matematika. Lumayan susah, tapi aku bisa,” jawab Hamja sambil mengambil sebuah parang kecil dari pondok kebun dan mulai mencabut rumput liar.
“Bagus. Belajar itu penting, Ja. Tapi bantu Ayah juga penting. Dunia ini bukan cuma soal angka, tapi juga soal tenaga.”
Hamja hanya mengangguk. Ia tahu maksud ayahnya bukan menyuruhnya jadi petani seperti
dirinya, tapi ingin mengajarkan tentang tanggung jawab dan kebersamaan. Baginya, ikut ke kebun bukan beban. Justru di sinilah ia belajar arti kerja keras yang tak diajarkan di buku-buku pelajaran.

Matahari makin turun. Hamja memunguti ranting-ranting kecil dan menyusunnya di atas tikar bambu. Di sela-sela pekerjaannya, ia membaca kembali catatan pelajaran dari buku kecil yang selalu ia bawa. Ia menyelipkannya di saku, lalu membuka tiap kali ada waktu senggang.

Pak Salim memperhatikan dari jauh. Hatinya campur aduk: bangga, tapi juga sedih. Ia tahu bahwa dunia Hamja sudah lebih luas dari kebun ini. Anak itu punya kepala penuh mimpi dan hati penuh tekad. Ia takut tak bisa memenuhi semua kebutuhan Hamja nanti, apalagi jika benar anak itu lulus seleksi beasiswa dan harus sekolah di kota. Namun ia juga sadar : kebanggaan bukan tentang berapa besar warisan yang bisa ia beri, melainkan tentang seberapa kuat ia mendorong anaknya untuk berdiri sendiri.

Malam itu, seperti biasa, Hamja belajar di bawah cahaya pelita. Di sebelahnya, Pak Salim mengasah kapaknya dengan batu pipih yang sudah ia gunakan bertahun-tahun. Suara gesekan kapak terdengar bersahut-sahutan dengan suara nyamuk yang beterbangan di dekat api kecil.
“Ayah,” kata Hamja pelan, “kalau aku nanti sekolah di kota, siapa yang bantu Ayah di kebun?”
Pak Salim berhenti mengasah. Ia meletakkan kapak dan menatap wajah anaknya.
“Kamu tak usah pikirkan itu. Kebun bisa Ayah garap sendiri. Yang penting kamu sekolah. Kamu punya tempat yang lebih tinggi untuk dituju.”
“Tapi Ayah selalu kerja sendiri. Kalau aku pergi, Ayah pasti makin capek.”
Pak Salim tersenyum, lalu mengusap kepala Hamja.
“Ja, Ayah sudah lama capek. Tapi Ayah capek dengan tujuan. Kamu sekolah, kamu berhasil, itu jadi obat capek Ayah. Percayalah, kamu pergi bukan berarti meninggalkan. Kamu justru sedang membuka jalan untuk kita berdua keluar dari ini semua.”
Hamja menunduk. Suara malam terasa lebih hening dari biasanya. Ia tahu ayahnya tidak sekadar berbicara tentang kebun, tapi tentang hidup.

Keesokan harinya, Hamja bangun lebih awal. Ia menyeduh teh untuk ayahnya, lalu menyiapkan buku pelajaran yang mulai menguning karena sering dibawa ke kebun. Hari itu adalah hari pengambilan formulir seleksi beasiswa.

Pak Salim menyempatkan diri mengantar Hamja ke sekolah. Hamja menggenggam map plastik berisi foto kopi rapor, kartu keluarga, dan surat keterangan miskin dari kantor desa. Semua dokumen yang mereka kumpulkan selama seminggu terakhir—hasil dari berkeliling desa, minta tanda tangan.

Sesampainya di sekolah, Hamja menatap ayahnya.
“Doakan aku, Yah.”
Pak Salim mengangguk.
“Kamu sudah sampai sejauh ini. Doa Ayah sudah lebih dulu sampai sebelum kamu berangkat.”
Hamja masuk ke sekolah, melangkah dengan tegap. Sementara itu, Pak Salim memandang punggung anaknya menjauh. Ia lalu kembali ke rumah, sambil memegang map kosong, dan kembali mengangkat kapaknya.
Hari itu, di bawah sinar matahari pagi yang menyilaukan, dua hal kembali berdampingan seperti biasa kapak dan buku. Dua alat hidup, dua simbol cinta, dua cara berbeda untuk memecah belukar dan membangun masa depan.

IMG-20260420-WA0020
previous arrow
next arrow
IMG-20260423-WA0117
previous arrow
next arrow
images - 2026-04-22T235051.720
previous arrow
next arrow
FB_IMG_1776869755543
previous arrow
next arrow

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *