Bupati Halteng Menyapu Luka Patani Barat, Saat Sebagian Wakil Rakyat Membisu

HALTENG ~ Di tengah sisa-sisa bara konflik yang masih menghangat di tanah Patani Barat, satu sosok memilih berjalan mendekat, bukan menjauh. Ikram Malan Sangadji tak sekadar memberi instruksi dari balik meja, melainkan menundukkan tubuhnya di antara puing, debu, dan harapan yang nyaris runtuh.

Dengan tangan yang tak ragu menyentuh reruntuhan, ia hadir sebagai pelayan, bukan penguasa. Langkahnya menyisir setiap sudut yang terluka, seolah ingin memastikan bahwa negara benar-benar ada, bukan hanya dalam pidato, tetapi dalam tindakan yang nyata dan terasa.

Warga menyaksikan, lalu perlahan percaya kembali. Apresiasi pun mengalir, bukan karena janji, melainkan karena bukti. Di saat yang sama, ironi mencuat ke permukaan, ketika sebagian wakil rakyat yang seharusnya menjadi suara penderitaan justru memilih sunyi dan bersembunyi di balik dinding nyaman, jauh dari debu, jauh dari derita.

Kontras ini tak lagi samar. Ia menjadi terang, bahkan menyilaukan. Di satu sisi, kerja keras yang nyaris tak mengenal lelah demi rakyat. Di sisi lain, keheningan yang terasa lebih tajam dari pengkhianatan moral.

Patani Barat hari ini bukan hanya tentang pemulihan pascakonflik. Ia adalah panggung yang menelanjangi siapa yang benar-benar bekerja, dan siapa yang sekadar ada. (Odhe/Red)

IMG-20260420-WA0020
previous arrow
next arrow
IMG-20260423-WA0117
previous arrow
next arrow
images - 2026-04-22T235051.720
previous arrow
next arrow
FB_IMG_1776869755543
previous arrow
next arrow

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *