“Mulut Manusia: Pahlawan Omongan, Pengecut Perasaan”

Penulis : Lamagi La Ode
Editor : Odhe Isma

Mulut manusia, organ kecil yang sering dianggap sepele, sebenarnya memiliki kekuatan besar untuk memengaruhi dunia di sekitarnya. Ia mampu menghidupkan dan mematikan semangat, menyulut perang kata, sekaligus menyampaikan kata maaf yang dalam. Ia adalah pahlawan omongan, mahir merangkai argumen, berkelit dengan logika, dan menaklukkan musuh bicara dengan retorika tajam. Namun, di balik nyalinya yang tampak tanpa batas, mulut manusia memiliki sisi gelap yang jarang diakui: pengecut dalam menghadapi kenyataan perasaan sendiri.

Saat tiba waktunya untuk menghadapi cermin, mulut yang begitu lantang berbicara tentang orang lain tiba-tiba membisu. Ketika dipaksa bertanggung jawab atas ucapannya, ia tersendat, berkelit, atau bahkan mengalihkan topik. Dan ketika kelemahannya terkuak, ia tidak berani bersuara. Ironis, mulut yang biasa menjadi pahlawan kata mendadak menjadi pengecut perasaan; takut terluka, takut terlihat rapuh, dan takut mengakui kesalahannya.

Adakah kekuatan sejati dalam kehebatan ini, atau hanya cara cerdik menyembunyikan kegugupan dan ketakutan yang merayap di balik dinding keangkuhan? Kerap, mulut ini dipakai untuk menutupi kekurangan, melarikan diri dari realita, dan menghindari tanggung jawab. Mungkin, inilah waktu untuk merenung: seberapa besar kita bergantung pada mulut sebagai tameng dari perasaan yang sebenarnya?

IMG-20260420-WA0020
previous arrow
next arrow
IMG-20260423-WA0117
previous arrow
next arrow
images - 2026-04-22T235051.720
previous arrow
next arrow
FB_IMG_1776869755543
previous arrow
next arrow

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *