TERNATE, Teropongmalut.com – Duka menghantui tanah Halmahera, di mana lantunan suara duka di daratan Halmahera dan robekan Eska merobek kedamaian. Pohon-pohon tak bersalah menjadi korban, sementara burung-burung beterbangan tanpa arah. Konflik antar sesama memecah belah, air mata tumpah di setiap sudut, mengungkap skema kejam di balik tragedi.
Demokrasi terkungkung oleh birokrasi, kesejahteraan direbut korporasi, tanah rakyat dijadikan komoditas dengan nyawa para petani sebagai taruhannya. Laut terancam oleh limbah tambang, karang mati, dan nelayan terpinggirkan. Kehidupan terancam oleh kepentingan segelintir yang tak perduli.
Di Halteng, ribuan buru mati di jam kerja, tangisan Ibu-ibu Sagea mengalir, pembunuhan berantai tak kunjung berhenti. Togutil menjadi tumbal, sementara pemuka agama bersekongkol dengan penguasa untuk melabeli tragedi sebagai takdir. Pertarungan antara kebenaran dan kehancuran, antara melawan atau mati, menjadi pilihan sulit bagi mereka yang tersakiti.
Warisan leluhur terabaikan, tanah adat dihancurkan oleh manusia tak berperikemanusiaan. Ternate, 21 Juli 2024, karya Nurya menjadi saksi bisu atas penderitaan yang melanda Daratan Halmahera. (Odhe)














