Teror Berdarah di Patani, Nyawa Warga Direnggut, Negara Diam, Alasan “Orang Hutan” Kian Memuakkan

HALTENG ~ Gelombang kematian misterius yang menghantui wilayah Patani dari Timur hingga Barat bukan lagi sekadar rangkaian peristiwa kriminal. Ini adalah teror sistematis yang terus berulang, brutal, dan memalukan bagi penegakan hukum. Warga dibunuh secara keji, sementara pelaku tetap tak tersentuh, seolah menghilang di balik dalih usang “orang hutan.”

Peristiwa tragis yang menimpa Ali Abas di Desa Bobane Jaya kembali membuka luka lama yang tak pernah benar-benar ditutup. Seorang petani lansia, yang hidupnya sederhana dan jauh dari konflik, ditemukan tewas dengan cara yang tidak manusiawi di kebunnya sendiri ruang hidup yang seharusnya aman, kini berubah menjadi ladang maut.

Fakta di lapangan menunjukkan indikasi kuat adanya unsur kesengajaan dan perencanaan. Penemuan ranjau tradisional di jalur menuju lokasi bukan hanya jebakan fisik, tetapi simbol dari ancaman nyata yang telah lama dibiarkan tumbuh tanpa kendali. Ini bukan kecelakaan. Ini bukan peristiwa acak. Ini adalah pembunuhan.

Lebih mengkhawatirkan, pola kekerasan ini bukan yang pertama. Rentetan kasus serupa telah terjadi sebelumnya di wilayah Patani, Patani Timur dengan ciri yang nyaris identik, korban warga sipil, lokasi terpencil, cara pembunuhan brutal, dan ujungnya tanpa pelaku yang jelas. Semua menguap dalam narasi “orang hutan” yang kian hari kian kehilangan logika.

Warga Patani tidak lagi bisa menerima alasan tersebut. Dalih itu bukan hanya merendahkan akal sehat publik, tetapi juga mencederai rasa keadilan. Ketika nyawa manusia diperlakukan seolah tidak bernilai, dan negara gagal memberikan jawaban, maka yang tumbuh adalah kemarahan, dan kini mulai nyata.

Ketiadaan kehadiran aparat dalam momen-momen krusial, seperti pencarian korban oleh warga, semakin mempertegas kesan lambannya respons institusi yang seharusnya menjadi garda terdepan perlindungan masyarakat. Ketika warga harus mencari sendiri korban pembunuhan, di situlah negara dipertanyakan.

Situasi ini tidak bisa lagi ditangani dengan pendekatan biasa. Ini adalah darurat keamanan. Ini adalah kegagalan sistemik yang menuntut tindakan luar biasa. Aparat penegak hukum harus berhenti berlindung di balik prosedur normatif dan segera bertindak dengan langkah konkret, transparan, dan terukur.

Jika tidak, maka pesan yang sampai ke publik sangat jelas dan berbahaya, bahwa membunuh di Patani bisa dilakukan tanpa konsekuensi. Warga kini tidak hanya berduka, tetapi juga murka. Mereka menuntut kejelasan, menuntut keadilan, dan yang paling mendasar adalah menuntut hak untuk hidup tanpa rasa takut di tanah mereka sendiri.

Negara tidak boleh terus diam. Karena setiap keterlambatan adalah satu nyawa lagi yang dipertaruhkan. (Odhe/Timred)

IMG-20260525-WA0024
previous arrow
next arrow
IMG-20260524-WA0021
previous arrow
next arrow
IMG-20260525-WA0027
previous arrow
next arrow

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *