Rangkuman Lengkap Kasus Pelecehan dan Kekerasan Seksual Sepanjang Tahun 2025
TERNATE, TeropongMalut — Tahun 2025 menjadi catatan kelam bagi perlindungan perempuan dan anak di Provinsi Maluku Utara. Berbagai kasus pelecehan dan kekerasan seksual mencuat hampir di seluruh kabupaten/kota, mulai dari wilayah perkotaan hingga pelosok desa. Ironisnya, mayoritas pelaku justru berasal dari lingkar terdekat korban: keluarga, guru, tokoh yang dikenal, hingga pasangan sendiri. Senin, 05 Januari 2026.
Berdasarkan data DP3A Provinsi Maluku Utara dan rilis kepolisian, ratusan laporan kekerasan terhadap perempuan dan anak tercatat sepanjang 2025. Kekerasan seksual menempati posisi paling dominan, dengan korban terbanyak adalah anak di bawah umur dan perempuan muda.
Data Umum Kekerasan Seksual Maluku Utara 2025
- Hingga September 2025, tercatat 246 kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak, dengan jenis kekerasan seksual sebagai kasus tertinggi.
- Kota Ternate, Tidore Kepulauan, dan Halmahera Selatan menjadi wilayah dengan laporan terbanyak.
- Dalam dua tahun terakhir, jumlah kasus tahunan berada di kisaran 400-an kasus, menunjukkan persoalan ini bersifat struktural dan berulang.

Rangkuman Kasus per Kabupaten/Kota
Kota Ternate
Ternate menjadi wilayah dengan sorotan tinggi sepanjang 2025.
Beberapa kasus mencuat, termasuk dugaan kekerasan seksual di lingkungan kampus, yang melibatkan oknum pengurus organisasi mahasiswa. Polisi memeriksa korban dan terduga pelaku serta menggandeng UPTD PPA untuk pendampingan psikologis korban.
Selain itu, Polres Ternate berhasil menangkap buronan kasus pencabulan dan persetubuhan anak yang sempat masuk Daftar Pencarian Orang (DPO) selama lebih dari satu tahun. Pelaku diketahui masih memiliki hubungan keluarga dengan korban.
Kota Tidore Kepulauan
Di Tidore, publik diguncang oleh laporan pelecehan seksual di rumah korban pada Februari 2025. Korban perempuan mendapati dirinya diraba saat tidur, sementara pelaku melarikan diri usai ketahuan.
Kasus lain yang menyita perhatian terjadi di Tidore Timur, ketika anak sekolah dasar diduga menjadi korban pelecehan seksual oleh oknum tokoh agama. Organisasi perempuan mendesak aparat penegak hukum agar proses hukum dilakukan secara transparan dan cepat.
Halmahera Barat
Halmahera Barat mencatat sejumlah kasus serius, termasuk persetubuhan anak usia 14 tahun yang pelakunya sempat melarikan diri sebelum akhirnya ditangkap polisi.
Kasus paling memilukan adalah dugaan pemerkosaan berulang oleh paman kandung terhadap keponakannya sejak korban berusia 11 tahun. Kasus ini baru mencuat setelah korban dewasa dan berani melapor, memicu keprihatinan luas masyarakat.
Halmahera Selatan
Di Halmahera Selatan, keluarga korban mengeluhkan lambannya penanganan laporan pemerkosaan anak yang sudah dilaporkan sejak awal 2025.
Pada kasus lain, dugaan pencabulan oleh oknum guru mengaji memicu amarah warga hingga berujung aksi main hakim sendiri. Polisi memastikan proses hukum tetap berjalan dan meminta masyarakat tidak bertindak di luar hukum.
Halmahera Utara
Kasus di Halmahera Utara melibatkan oknum aparatur sipil negara (ASN) dan guru PPPK yang diduga melakukan kekerasan seksual terhadap murid.
Upaya praperadilan yang diajukan salah satu tersangka ditolak pengadilan, menandakan perkara tetap berlanjut ke tahap pembuktian.
Halmahera Tengah
Di Weda Tengah, keluarga korban melaporkan dugaan pemerkosaan anak dan mendesak aparat agar pelaku segera diamankan. Kasus ini menambah daftar panjang kekerasan seksual terhadap anak di wilayah tambang dan industri.
Pulau Morotai
Pulau Morotai menjadi salah satu daerah dengan banyak laporan di sektor pendidikan.
Sejumlah oknum guru dan kepala sekolah dilaporkan atas dugaan pelecehan dan pencabulan terhadap siswa, dengan jumlah korban lebih dari satu orang.
Kejaksaan Negeri Morotai mencatat puluhan perkara kekerasan seksual sepanjang 2025, sebagian di antaranya telah berkekuatan hukum tetap.
Kepulauan Sula
Di Kepulauan Sula, kasus persetubuhan anak oleh ayah kandung mengguncang publik.
Selain itu, seorang oknum anggota DPRD ditetapkan sebagai tersangka pemerkosaan dan penganiayaan terhadap perempuan dewasa yang memiliki hubungan pribadi dengannya.
Pulau Taliabu
Pulau Taliabu mencatat 16 kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak sepanjang 2025, termasuk pencabulan dan pelecehan seksual.
Polres setempat menyerahkan tiga tersangka kasus persetubuhan anak ke kejaksaan, menandai keseriusan penegakan hukum.
Pola Berulang dan Alarm Sosial
Dari rangkuman kasus sepanjang 2025, terlihat pola yang berulang:
- Pelaku adalah orang dekat korban (keluarga, guru, tokoh masyarakat).
- Korban anak dan remaja menjadi kelompok paling rentan.
- Relasi kuasa di sekolah, rumah ibadah, dan keluarga menjadi celah utama terjadinya kejahatan.
- Masih terdapat keluhan lambannya penanganan kasus, terutama di daerah.
Maraknya kasus pelecehan dan kekerasan seksual sepanjang 2025 menjadi peringatan keras bagi seluruh pemangku kepentingan di Maluku Utara. Penegakan hukum yang tegas, perlindungan korban, serta pencegahan berbasis komunitas dan pendidikan menjadi keharusan, bukan pilihan.
Tanpa langkah serius dan berkelanjutan, kekerasan seksual akan terus berulang—menjadi luka kolektif yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Tim/Redaksi












