Oleh: Diana Anggraeni
TeropongMalut.com, Ramadan bukan hanya tentang berpuasa menahan makan, dahaga, dan nafsu selama satu bulan, tetapi juga bulan perjuangan bagi umat Islam. Perjuangan umat untuk mengembalikan kehidupan Islam di tengah-tengah umat belum tercapai, agar kita dapat meraih kemenangan yang hakiki bersama-sama dalam Idul Fitri. Tentu saja, hal ini membutuhkan usaha yang besar untuk mengembalikannya.
Sebab, umat Islam terpecah dalam berbagai negara, bahkan banyak yang bersekutu dengan negara kafir harbi (kafir yang terang-terangan memusuhi Islam). Dalam mengutuk Iran saat Teheran meluncurkan serangan balasan terhadap Israel dan Amerika Serikat yang menyerang Iran terlebih dahulu pada Sabtu, beberapa negara bahkan menegaskan pernyataan bahwa mereka bersatu membela negara, kedaulatan, dan wilayah mereka.
Di sisi lain, negara-negara Muslim seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Yordania, Turki, Pakistan, Qatar, Mesir, dan Indonesia pada 22 Januari 2026 menandatangani piagam untuk bergabung dalam BoP (Dewan Perdamaian) guna memfasilitasi gencatan senjata atas genosida di Palestina. Inisiatornya adalah Donald Trump, yang kita ketahui juga terlibat dalam berbagai kebijakan kontroversial, termasuk dukungan terhadap Israel.
Umat mengalami kemunduran dan terpecah dalam berbagai negara sejak 3 Maret 1924, ketika kekhilafahan Islam dihapus. Sosok pelindung Al-Qur’an, As-Sunnah, dan kaum Muslimin dihapus secara paksa. Sejak saat itulah, umat mengalami berbagai musibah.
Memaknai Ramadan untuk Meraih Kemenangan Hakiki
Ummat memiliki kesadaran dalam memaknai Ramadan sebagai bulan perjuangan, tetapi belum sampai pada tataran ideologi Islam. Perjuangan umat masih bersifat praktis-pragmatis dan belum menyentuh inti perjuangan yang sesungguhnya. Posisi politik umat Islam terus berada dalam kondisi lemah, padahal Allah SWT telah menyebut umat Islam sebagai umat terbaik, sebagaimana firman-Nya:
“Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah…” (QS. Ali ‘Imran: 110).
Kita adalah umat terbaik, tetapi hari ini justru lemah dan tidak memiliki kekuatan. Padahal, sumber daya manusia (SDM), sumber daya alam (SDA), serta posisi geopolitik dan geostrategis wilayah Islam sangat besar. Potensi Islam sebagai negara super power pun sebenarnya sangat kuat.
Negeri-negeri Muslim menguasai jalur strategis perdagangan dunia antara lain: Iran (Selat Hormuz), Indonesia, Malaysia, dan Singapura (Selat Malaka), Maroko (Selat Gibraltar), Mesir dan Arab Saudi (Selat Tiran), serta Turki (Selat Bosphorus dan Dardanella).
Ditambah lagi SDM di negeri-negeri Muslim sangat besar. Berdasarkan data OKI, populasi di negeri-negeri OKI sekitar 1,2 miliar atau 21,5% populasi dunia. Muslim di India sekitar 200 juta (13,4%), dan di China sekitar 25 juta (2%). Secara keseluruhan, populasi Muslim mencapai sekitar 2 miliar dari 7,8 miliar manusia di dunia atau sekitar 25%.
Sumber daya alamnya juga besar: cadangan minyak mencapai 998 miliar barel, gas 117 triliun meter kubik, energi terbarukan 367 terawatt-jam, produksi biji-bijian 425 juta ton per tahun, dan produksi daging sekitar 36,8 juta ton. Namun, dalam hal politik, umat masih lemah. Untuk mengembalikan kehidupan Islam, dibutuhkan partai politik Islam yang ideologis, yang benar-benar berjuang untuk kebangkitan dan kemaslahatan umat, bukan untuk kepentingan segelintir pihak.
Dakwah dan Kembalinya Kehidupan Islam
Kunci membangun kesadaran politik ideologis umat dengan Islam kaffah adalah melalui amar ma’ruf nahi munkar, yaitu menyeru kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran melalui dakwah. Kesadaran yang dibangun juga membutuhkan persatuan yang hakiki di bawah institusi negara Islam (khilafah) yang diperjuangkan secara serius oleh kelompok yang tulus demi kejayaan Islam dan kaum Muslimin.
Ramadan sebagai bulan perjuangan dan Idul Fitri sebagai kemenangan hakiki harus menjadi titik awal untuk mengonsolidasikan dan memobilisasi kekuatan serta persatuan umat Islam. Dengan demikian, kemenangan hakiki tidak hanya berhenti pada berakhirnya Ramadan, tetapi berlanjut pada kebangkitan Islam dalam kehidupan.
Ramadan adalah bulan perjuangan dan Idul Fitri adalah kemenangan. Namun, kita belum sampai pada tingkat kemenangan yang hakiki jika belum benar-benar bersatu dalam satu kekuatan yang menerapkan kehidupan Islam.
Umat Muslim sedunia sebenarnya memiliki potensi besar untuk bangkit kembali dalam satu kepemimpinan, baik dari sisi geopolitik, SDM, maupun SDA. Namun, mereka meninggalkan aturan Islam dan justru mengadopsi hukum buatan Barat, padahal kita memiliki pedoman yang jelas, yaitu Al-Qur’an dan As-Sunnah. (Selesai)















