JAKARTA ~ Pernyataan Rocky Gerung menohok langsung jantung kekuasaan sebab filsafat adalah cara berpikir, bukan cara menghamba. Namun yang terjadi justru sebaliknya. Nalar dipaksa tunduk, kritik dibungkam, dan filsafat dipelintir menjadi pembenaran bagi penguasa.
Dalam kondisi ini, hukum kehilangan marwahnya. Ia tak lagi lahir dari kedalaman filsafat yang menjunjung logika dan keadilan, melainkan direduksi menjadi alat transaksi kepentingan.
Ketika hukum dikendalikan oleh kuasa, kebenaran disubordinasikan, dan keadilan berubah menjadi ilusi yang dikemas rapi.
Kritik ini bukan sekadar peringatan, melainkan alarm keras: tanpa fondasi filsafat yang merdeka, hukum akan terus terjerumus menjadi instrumen penindasan. Jika dibiarkan, bukan hanya sistem hukum yang runtuh, tetapi juga kepercayaan publik yang hancur dan menyisakan kekuasaan tanpa kontrol dan masyarakat tanpa perlindungan. (Odhe/Red)














