Negara Berwajah Korporasi, Rakyat Diperas, Kedaulatan Terkubur

Penulis : Farid Amir

Editor : Odhe Haltim

Indonesia kian dipertanyakan arah dan jati dirinya. Alih-alih hadir sebagai negara yang melindungi dan menyejahterakan, sistem yang berjalan justru menyerupai korporasi raksasa yang dingin, terukur, dan eksploitatif. Rakyat yang seharusnya menjadi pemilik kedaulatan perlahan direduksi menjadi sekadar tenaga produksi, bekerja tanpa henti, bergerak tanpa pilihan, dan menghasilkan tanpa kepastian masa depan.

Dalam konstruksi ini, manusia tidak lagi diposisikan sebagai tujuan pembangunan, melainkan sebagai komoditas yang terus diperas. Kemiskinan seolah dipelihara, kebodohan dibiarkan terstruktur, dan tekanan hidup dirancang sedemikian rupa agar publik tak sempat mempertanyakan keadaan. Negara berubah menjadi mesin yang tak pernah berhenti beroperasi untuk menghitung, menakar, dan menghisap.

Pajak yang semestinya menjadi instrumen gotong royong justru dirasakan sebagai beban berlapis dengan berbagai wajah dan nama. Sementara itu, nilai-nilai luhur seperti Pancasila kerap tampil sebatas simbol moral, tanpa daya nyata dalam praktik kebijakan yang jauh dari keadilan dan kemanusiaan.

Struktur kekuasaan pun dinilai semakin menyerupai bagan perusahaan. Dari pusat hingga daerah, jabatan dipersepsikan sebagai jalur akumulasi keuntungan, bukan ruang pengabdian. Kekuasaan diperlakukan sebagai investasi yang harus kembali modal, bukan amanah yang wajib dipertanggungjawabkan kepada rakyat.

Akibatnya, kesejahteraan hanya menjadi janji berulang dari periode ke periode. Pergantian kekuasaan tak lebih dari pergantian wajah, tanpa perubahan arah yang signifikan. Sistem ini dinilai terlalu mapan dan kuat, tertutup, dan sulit ditembus oleh rakyat yang telah lama dilemahkan.

Di tengah situasi tersebut, rakyat tetap bertahan hidup dalam harapan yang kian menipis, hidup di sesuatu yang disebut negara, namun terasa semakin menyerupai perusahaan tanpa empati. Sebuah ironi yang terus berlangsung tanpa tanda akan berhenti.

Fenomena rakyat kehilangan identitas di Indonesia merujuk pada krisis jati diri nasional dan budaya, di mana nilai-nilai lokal, budaya asli, dan semangat kebangsaan memudar akibat pengaruh globalisasi serta modernisasi yang tidak terkendali.

IMG-20260314-WA0032
previous arrow
next arrow
IMG-20260402-WA0008
previous arrow
next arrow
IMG-20260403-WA0012
previous arrow
next arrow
IMG-20260316-WA0003
previous arrow
next arrow

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *