Mohtar Adam: Karena Kopra dari Malut, Papua Masuk ke NKRI

Wawancara Wartawan teropongmalut.com dengan akademisi Unkhair Mohtar Adam, di halaman rumahnya

Ternate-Teropongmalut.com, Akademisi Universitas Khairun (UNKHAIR) Ternate Mohctar Adam, meminta kepada Pemerintah Provinsi Malut dan pemerintah Indonesia untuk mengintervensi harga jual kopra dengan menetapkan harga jual yang layak bagi petani kopra di Provinsi Malut. Demikian dikemukakan Mohtar Adam, saat teropongmalut.com menyambangi kediamannya di Kelurahan Gambesi Sabtu (22/12).

Sebab, komoditi kopra Malut memiliki kontribusi yang sangat besar bagi Bangsa Indonesia. Karena pada tahun 1962 warga Malut menyumbangkan 1000 ton kopra untuk biaya pembebasan Irian Barat untuk masuk ke NKRI. Orang Papua tidak akan  Masuk Indonesia tanpa Moloku Kie Raha dan melalui 1000 Ton Kopra di sumbangkan melahirkan DAKOMIP (Dana Kopra Papua Barat) tempatnya di kompleks skarang. Jelas Mohtar Adam.

Kenapa dibilang harga diri lanjut Mohtar, karena ini soal value. jadi merebut Papua Barat itu ada kopra dibelakangnya. Kata Mohtar Adam, dari sejarah peradaban kopra itu Soekarno menerbitkan satu keputusan perpres Pada tahun 1962 tentang kopra. Karena itulah Maluku Utara berjasa besar terhadap Papua.

Menurut Mohtar, menjaga NKRI di kawasan timur rohnya ada di Moloku Kie Raha. Sehingga kopra menjadi simbol perjuangan, nilai perjuangan kemerdekaan. Nah, menjadi tidak adil rasanya saat ini kalau kopra tidak di bela. Kopra di bela bukan karena rendahnya pendapatan petani, tetapi terkait dengan nilai-nilai perjuangan.

Kalau dibilang komoditi mana yang diperjuangakan, mestinya komodi kopra yang diperjuangkan. Kalau komoditi cengkeh dan pala membuat penjajah masuk ke Maluku Utara, jelas Mohtar. karena pala dan cengke adalah komoditi penjajah, dua komoditi itulah penjajah masuk lewat perdagangan oleh Portugis pertama kali di Ternate. Tetapi kalau bicara kopra adalah bicara komoditi kemerdekaan, mengembalikan Papua Barat ke pangkuan Indonesia, dan memaksa Soekarno datang 3 kali ke Maluku Utara bernegosiasi dengan Sultan Abidin Syah dan memproklamirkan Papua setelah konferensi Denhak di Jogja.

Kenapa pilihannya di alun-alun Jogja karena ingin menghargai sesama saudara Sultan. Kenapa tidak di Jakarta, karena di Jakarta tidak ada simbol Kesultanan. Simbol kesultanannya ada di Jogja sehingga memukul gendang perang perebutan Irian Barat yang di komandokan oleh Kesultanan Tidore lalu itu di cetuskan di alun-alun Jogja.

Dalam proses perjuangan itu lalu Negara-negara mengakui Papua Barat masuk ke pangkuan Republik Indonesia. Maka, sebagai bentuk penghargaan dan terima kasih maka Presiden Soekarno waktu itu menunjuk dan mengangkat Sultan Jainal Abin Syah untuk menempati Gubernur pertama Papua Barat dan menjadikan Soa-Sio Tidore sebagai ibu Kota Papua Barat yang saat ini di rayakan setiap tahun oleh Pemerintah Papua.

Nah, Didalamnya ada ekonomi perjuangan, ekonomi perjuangannya adalah kopra. Di Ternate waktu itu (1962) rakyatnya berbondong-bondong menyemangati semangat NKRI para warga mengumpulkan kopranya, warga ternate waktu itu menahan tidak naik haji, menahan anaknya tidak sekolah, mereka kumpulkan kopra untuk duitnya digunakan oleh Negara Indonesia untuk perebutan Papua Barat. (dude)

IMG-20260525-WA0024
previous arrow
next arrow
IMG-20260524-WA0021
previous arrow
next arrow
IMG-20260525-WA0027
previous arrow
next arrow

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *