Ternate-teropongmalut.com, Akademisi Universitas Khairun Ternate Mohtar Adam, mendesak Pemerintah Provinsi Maluku Utara untuk mengintervensi harga jual kopra di pasaran dengan menetapkan harga kopra yang layak minimal Rp 5.000 per kilo gram. Sebab, harga komoditas kopra di Provinsi Malut berada pada titik nadir yakni hanya Rp 2.000 per kilo gram dari sebelumnya Rp 8.000-10.000 per kilo gram.
Kondisi itu terjadi akibat dari Tiongkok menurunkan kapasitas produksi sehingga harga per September 2017 USD 1.200 anjlok sampai per September 2018 USD 623 per ton atau turun sama dengan 57,23% dalam jangka waktu satu tahun. Nah, petani kopra Maluku Utara pasti masuk pada jurang kemiskinan sehingga pertumbuhannya tinggi di maluku utara 8,7 tapi angka kemiskinan naik 81 ribu menjadi 82 ribu. Demikian dikemukakan Mohtar Adam, saat disambangi KBR di Kediamannya Kelurahan Gambesi Minggu (23/12).
Kenapa angka kemiskinannya naik, karna ada anomaly, biasanya kalau pertumbuhan ekonomo naik orang musti sejahtera. Karena aktifitas ekonomi memberikan imbas perekonomian. Ekonominya naik rakyatnya miskin, kenapa rakyatnya miskin karena tumbuh di sana sektor tambang di kepung oleh tiongkok. Tiongkok menurunkan kopra, rakyat Maluku Utara miskin karena kopra. tapi Tiongkok kaya, datang ambil hasil tambang ekspor ke Tiongkok itu 352% dalam tahun 2018. Jelas Mohtar Adam
Menurut Mohtar Adam, Butahkan rakyat Maluku Utara untuk mengiklaskan Tiongkok mengambil kekayaan begitu besar atas dasar investasi. Ketika rakyat meminta perlindungan ke Negara atas anjloknya harga kopra, loh negara bilang itu hukum pasar. Market tidak bisa bgitu, pasar ada yg tidak sehat. Karna pasar tidak sehat bentuklah pemerinrah, kenapa ekonomi butuh peran pemerintah karna pemerintah menjadi wasit yang adil dalam pasar. (dude)


























