HALTENG — Senja di Desa Sibenpopo, 7 April 2026, menjadi saksi bisu sebuah peristiwa yang tak hanya meredam konflik, tetapi juga menyatukan kembali hati yang sempat terbelah. Tangis pecah di antara warga Desa Banemo dan Sibenpopo bukan lagi karena amarah, melainkan karena kelegaan dan penyesalan yang akhirnya menemukan jalan pulang.
Konflik yang terjadi pada 3 April lalu meninggalkan luka dan rumah rusak, aktivitas terhenti, dan ketakutan menyelimuti hari-hari masyarakat. Anak-anak kehilangan waktu belajar, para orang tua kehilangan ketenangan, dan kampung yang dulu hangat berubah sunyi oleh curiga.
Namun sore itu, semuanya mulai berubah.
Dalam suasana haru yang tak terbendung, kedua pihak yang sebelumnya bertikai berdiri berdampingan. Mereka saling menatap, lalu perlahan saling memaafkan. Tangan yang dulu mungkin terangkat dalam emosi, kini saling menggenggam erat. Air mata mengalir, menjadi saksi bahwa hati yang keras pun bisa luluh oleh kesadaran akan pentingnya persaudaraan.
Penandatanganan pernyataan damai bukan sekadar formalitas, melainkan janji tulus untuk tidak lagi mengulang luka yang sama. “Cukup sudah,” menjadi bisikan yang terasa di antara mereka dan sebuah tekad agar konflik tak lagi merenggut kedamaian yang selama ini dijaga bersama.
Bupati Halmahera Tengah, Ikram Malan Sangadji, dengan suara yang sarat emosi, mengingatkan bahwa masyarakat Banemo dan Sibenpopo sejatinya adalah satu keluarga. Dalam setiap perayaan, mereka pernah duduk bersama, saling mendoakan, dan berbagi kebahagiaan.
“Hari ini, kita kembali menjadi saudara,” pesannya, seolah mengikat kembali benang-benang persaudaraan yang sempat terputus.
Ia pun tak menutupi keprihatinannya. Konflik ini, katanya, telah memporak-porandakan banyak hal mulai dari ekonomi hingga pendidikan anak-anak. Namun di balik luka itu, tersimpan pelajaran berharga: bahwa perdamaian adalah sesuatu yang harus dijaga, bukan sekadar diucapkan.
Di penghujung acara, peletakan batu pertama pembangunan rumah bagi warga terdampak menjadi simbol harapan. Bahwa dari puing-puing yang tersisa, kehidupan baru akan dibangun agar lebih kuat, lebih hangat, dan lebih penuh kasih.
Rekonsiliasi ini bukan akhir, melainkan awal. Awal bagi Banemo dan Sibenpopo untuk kembali berjalan bersama, merajut ulang kepercayaan, dan menjaga satu hal yang paling berharga yaitu persaudaraan.
Di tanah Maluku Utara, di antara tangis yang jatuh sore itu, lahir kembali sebuah harapan, bahwa damai selalu punya jalan pulang. (Odhe/Red)






















