SULA-TeropongMalut.com, Kelangkaan BBM yang terjadi di Kecamatan Mangoli Utara, bukan hanya menyusahkan para pemilik kendaraan roda dua maupun roda empat, tetapi juga merupakan mimpi buruk bagi Nelayan dan Petani.
Pasalnya, akibat dari kelangkaan tersebut, membuat harga jual BBM pun melonjak tinggi dari Rp 15.000-Rp 17.000 per liter. Hal inilah yang membuat geram para Aktivis setempat.
Ketua Kota Liga Mahasiswa Nasional Demokrasi (LMND) Sanana, Junaidi Peuleu, pada awak media menuturkan, bahwa kelangkaan BBM ini bukan hal baru dan ini suda berulang kali terjadi.
“Ini adalah mimpi buruk yang berulang kali terjadi. Namun, hal ini seakan telah di atur rapi oleh oknum dan pihak-pihak tertentu yang sengaja mau menindas rakyat,” ucap dia.
Kenapa tidak, lanjut dia, karena hingga kini hal ini tidak ada respon dari Pemerintah dan para Legislator yang mampu menuntaskan hal yg menjadi kelurahan rakyat ini.
Pemuda yang lahir di Kecamatan Mangoli Utara itu mengungkapkan, di Kecamatan Mangoli Utara adalah sala satu Kecamatan yang memiliki DPRD terbanyak di banding Kecaman lain yang ada di lingkup Kabupaten Kepulauan Sula.
“Kita memiliki tiga orang perwakilan anggota DPRD. Tapi hal semacam ini saja tak mampu di selesaikan, bahkan mereka malah terkesan diam seakan tak memiliki fungsi dan tanggung jawab apa-apa,” bebernya.
Menurutnya, tidak bisa diatasinya kelangkaan BBM di Mangoli Utara ini, tidak saja membuat pihaknya kecewa, namun lebih dari itu masyarakat pun juga sangat kecewa dengan kinerja para wakil rakyat ini.
“Sebagai wakil rakyat hendaknya bisa mengatasi permasalahan kelangkaan BBM, namun hingga kini belum juga teratasi,” ujarnya.
Ia juga menegaskan, kalau tidak bisa jadi wakil buat rakyat, maka lebih baik turun saja jangan malah menambah beban buat rakyat. “DPRD ini sok-sok dengan jabatannya saja, itu rakyat sengsara mereka diam seakan tak memiliki tugas dan tanggung jawab apa-apa,” tegasnya.
“Saya juga orang yang lahir dan dibesarkan di Mangoli Utara, jadi saya tau kondisi masyarakat di sana. Saya ingin tegaskan ke tiga orang perwakilan itu, bahwa tugas dan tanggung jawab mereka sebagai DPRD itu bukan hanya enak-enak saja, tapi harus betul-betul memperhatikan apa yang jadi kebutuhan rakyat,” cercanya mengakhiri. (Fai/red)
















