SOFIFI — Ledakan ekonomi Maluku Utara pada triwulan IV-2025 bukan kabar baik, melainkan alarm keras. Angka pertumbuhan yang melonjak hingga di atas 29 persen (y-on-y) dan 12,23 persen (q-to-q) memang tampak impresif, tetapi di balik itu tersembunyi realitas yang rapuh dan tidak berkelanjutan.
Data menunjukkan pola pertumbuhan yang liar dan tak terkendali mulai dari 19,72 persen di akhir 2023, anjlok ke 5,84 persen, lalu melonjak ekstrem hingga 41,36 persen sebelum kembali turun ke 29,81 persen. Ini bukan ciri ekonomi sehat, melainkan gejala ketergantungan akut pada faktor sesaat yang rentan runtuh kapan saja.
Lebih parah lagi, di tengah euforia angka, konsumsi pemerintah justru jatuh ke zona negatif. Motor fiskal melemah drastis, memperlihatkan kegagalan peran negara dalam menjaga stabilitas ekonomi daerah. Pertumbuhan yang terjadi pun diduga hanya bertumpu pada segelintir sektor, tanpa dampak merata ke masyarakat luas.
Kontradiksi semakin nyata di level kawasan. Saat Sulawesi tumbuh stabil, Maluku dan Papua justru terkontraksi, meski Maluku Utara mencatat lonjakan tinggi. Fakta ini membongkar ilusi bahwa pertumbuhan fantastis tersebut tidak cukup kuat menopang ekonomi regional, apalagi mencerminkan kekuatan riil.
Kesimpulannya tegas, ini bukan “boom”, melainkan fatamorgana statistik. Angka boleh tinggi, tetapi tanpa fondasi kokoh dan distribusi yang adil, ekonomi Maluku Utara berdiri di atas tanah yang retak dan siap runtuh kapan saja. (Tim/Red)













