Oleh : Odhe Isma
Editor : Redaktur
Di panggung kekuasaan hari ini, pencitraan seolah menjadi mata uang utama yang lebih berharga ketimbang kritik. Mereka yang pandai membungkus citra dengan janji dan narasi manis mendapat sorotan, sementara suara kritis kerap dianggap angin lalu, bahkan dihapus dari percakapan publik.
Ironisnya, meski kebijakan yang dijalankan kerap salah arah atau penuh kelemahan, kritik sering dianggap ancaman, bukan masukan. Arus besar pencitraan membentuk ilusi seakan semua berjalan baik-baik saja, menenggelamkan realitas yang berbeda di lapangan.
Di tengah derasnya arus ini, mereka yang bersuara justru terpinggirkan, dicap pengganggu, bahkan dipaksa diam. Kritik yang seharusnya menjadi vitamin bagi demokrasi, berubah menjadi “musuh” yang harus disingkirkan.
Seakan di muka bumi ini, kebenaran tak lagi diukur dari realita, melainkan dari seberapa indah citra yang berhasil dibangun.














