SURAT PANGGILAN DARI SEKOLAH

Ternate-TeropongMalut.com, Sebuah amplop putih tiba di tangan yang kasar. Di dalamnya bukan uang, bukan kabar panen, tapi secercah harapan. Sebuah surat yang menyambung peluh di tanah dengan cahaya dari kota._
Pagi itu udara desa terasa lebih hangat dari biasanya. Burung-burung kutilang bernyanyi di dahan pohon jambu belakang rumah. Di dapur, suara denting sendok dan bunyi air mendidih menandai aktivitas pagi yang sederhana. Pak Salim menuang teh ke dalam dua cangkir kaleng yang sudah penyok di beberapa sisi. Satu untuk dirinya, satu lagi untuk Hamja yang masih bersiap ke sekolah.

“Minum dulu, Ja,” ujar Pak Salim.
Hamja keluar dari kamar, mengenakan seragam merah putih yang sudah disetrika rapi semalam. Meski warna kainnya mulai pudar dan tambalan di bahu kanan sudah tak bisa disembunyikan, ia memakainya dengan bangga. Di tangannya, ia membawa buku catatan yang mulai lusuh karena terlalu sering dibuka.

Hari itu Hamja tampak gelisah. Ia tahu bahwa hasil seleksi berkas beasiswa akan diumumkan. Meskipun gurunya beberapa kali memujinya dan menyebut namanya sebagai salah satu kandidat kuat, Hamja tetap tak ingin terlalu berharap.
“Kalau dapat, bagus. Kalau tidak…..,aku tetap bisa bantu Ayah di kebun dan belajar di SMP biasa,” ucapnya dalam hati, mencoba menenangkan kegelisahan.
Sore hari menjelang, derap langkah Hamja terdengar tergesa-gesa di jalan tanah desa. Ia berlari sambil menggenggam sebuah amplop putih. Nafasnya memburu, bajunya basah oleh peluh, dan wajahnya merah karena berlari dari sekolah tanpa henti. Sesampainya di rumah, ia memanggil ayahnya yang sedang mengikat kayu bakar di belakang rumah.

“Yah! Yah! Ini… ini suratnya!” teriaknya sambil mengacungkan amplop itu.

Pak Salim segera berdiri dan menghampiri anaknya. Tangannya yang penuh serbuk kayu menyambut amplop itu dengan gemetar. Di sudut kanan tertulis: “Dinas Pendidikan Kabupaten Halmahera Selatan– Program Seleksi Siswa Berprestasi”.
Hamja tak sabar. “Boleh saya buka, Yah?”
Pak Salim mengangguk. Amplop itu pun dibuka perlahan, dan secarik kertas putih dikeluarkan. Tulisan di bagian atasnya cukup besar:
“Selamat! Anda Lolos Seleksi Tahap Pertama.”
Hamja menatap ayahnya. “Aku lolos, Yah… aku diundang ikut seleksi lanjutan di kota!”
Pak Salim menatap mata anaknya, lalu mengusap kepalanya pelan. Senyum yang lahir di wajahnya bukan sekadar bahagia, tapi juga lega. Namun di balik senyum itu, pikirannya langsung berputar: ongkos ke kota, biaya akomodasi, seragam untuk seleksi, sepatu, uang saku—semua itu harus disiapkan dalam waktu satu minggu.

“Di kota? Kapan kamu harus ke sana?” tanyanya pelan.

“Pekan depan. Harus bawa perlengkapan lengkap, fotokopi rapor, alat tulis, dan seragam rapi,” jawab Hamja, tak bisa menyembunyikan semangatnya.

Pak Salim mengangguk, meski dalam hati ia mulai cemas. Uang tabungannya tak cukup. Kayu bakar yang ia jual kemarin bahkan hanya cukup untuk membeli beras dan sabun. Tidak ada lagi yang bisa ia andalkan. Tidak ada, kecuali satu: kambing tua betina yang sejak dulu ia pelihara—warisan terakhir dari almarhum istrinya.

Malam itu, Pak Salim duduk termenung di depan kandang. Kambing tua itu sudah tak produktif lagi, tapi masih setia menemani halaman rumah. Wajah Pak Salim terlihat berat. Ia tahu, menjual kambing itu berarti melepaskan satu-satunya peninggalan istrinya. Tapi ia juga tahu: mempertahankan benda kenangan tidak akan lebih berharga daripada membuka jalan bagi masa depan anaknya.

Esok paginya, ia membawa kambing itu ke desa tetangga untuk dijual. Beberapa pembeli menawar, dan akhirnya kambing itu laku dengan harga yang cukup untuk membeli perlengkapan Hamja dan ongkos ke kota. Saat pulang, Pak Salim membawa sepasang sepatu baru yang sederhana, selembar kemeja putih, dan sebuah tas kain kecil. Ia menyerahkannya kepada Hamja sambil berkata,
“Ini bukan baru, tapi cukup untuk mengantar kamu ke kota.”

Hamja tak bisa berkata apa-apa. Ia tahu, ayahnya tak mungkin bisa membeli semua ini tanpa pengorbanan besar. Ia menatap mata ayahnya, dan dalam diam, ia bersumpah tidak akan menyia-nyiakan kepercayaan itu.

Hari keberangkatan pun tiba. Pak Salim mengantar Hamja ke pelabuhan desa. Wajahnya datar, tapi matanya berkaca-kaca. Ia tak berkata banyak. Ia hanya menepuk pundak Hamja sambil berpesan,
“Jangan pernah takut jauh dari rumah. Rumah akan selalu ada di hatimu. Dan Ayah akan selalu doakan kamu.”
Hamja naik ke ke kapal dengan langkah berat. Tapi saat duduk di sebuah kursi panjang yang terbuat dari kayu dekat jendela, ia tersenyum melihat ayahnya masih berdiri di luar, menatapnya. Ketika kapal mulai bergerak, Hamja melambaikan tangan, dan Pak Salim mengangkat tangannya tinggi menahan air mata yang nyaris tumpah.
Di pangkuan Hamja, amplop berisi surat seleksi itu tergenggam erat. Dan di dalam hatinya, ia tahu: surat itu bukan sekadar undangan, tapi tanda dari Tuhan bahwa keringat ayahnya tidak sia-sia.

IMG-20260420-WA0020
previous arrow
next arrow
IMG-20260423-WA0117
previous arrow
next arrow
images - 2026-04-22T235051.720
previous arrow
next arrow
FB_IMG_1776869755543
previous arrow
next arrow

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *