Sepatu Tua dan Seragam Robek

TeropongMalut.com, Di sudut kelas, sepasang mata menunduk pada sepatu berlubang dan pundak seragam yang sobek. Tapi di balik itu, ada otak yang jernih dan hati yang teguh. Dunia mungkin menilai dari tampilan, tapi keteguhan diuji dalam diam.

Minggu itu, udara pagi terasa lebih dingin dari biasanya. Kabut turun agak pekat, membuat langit tampak menggantung rendah. Di sekolah dasar tempat Hamja belajar, suasana mulai sibuk. Anak-anak duduk berkelompok, bercanda, beberapa sibuk mencatat, dan sebagian sibuk memperlihatkan baju seragam baru hasil jahitan tukang permak yang ada di desa.

Hamja duduk sendiri di bangku panjang di pojok halaman sekolah. Ia menunduk, memeluk tas plastiknya yang mulai sobek di sisi kanan. Kaus kaki yang dipakainya tak lagi sama panjang, dan sepatu kanannya bolong di bagian depan. Beberapa teman melirik, lalu berbisik, meskipun mereka tak berani menertawakan secara terang-terangan. Hamja terlalu cerdas, terlalu baik, untuk dijadikan bahan olok-olokan. Tapi ia tetap merasa asing, seperti berdiri di dunia yang tak punya ruang untuk kaki yang berlubang dan seragam yang robek di bagian pundak.

Di dalam kelas, guru mengumumkan bahwa bulan depan akan ada kunjungan tim dari kabupaten. Mereka akan menyeleksi siswa-siswa terbaik dari desa-desa terpencil untuk mendapatkan beasiswa pendidikan ke SMP unggulan di kota. Mata Hamja langsung berbinar saat mendengar kata “beasiswa”. Namun binar itu perlahan redup saat ia melihat dirinya sendiri: sepatu tua, seragam pudar, dan tas yang hampir putus talinya. Ia tak yakin apakah layak masuk ke daftar anak yang akan ditampilkan sebagai siswa terbaik.

Sepulang sekolah, Hamja berjalan lebih lambat dari biasanya. Hujan semalam membuat jalan tanah berlumpur, dan bagian sol sepatunya yang sudah lepas membuatnya terpeleset dua kali. Tapi ia terus berjalan, menahan sesak di dada yang tidak bisa ia jelaskan. Setiba di rumah, ia langsung masuk kamar dan meletakkan tasnya. Ia tak langsung belajar seperti biasanya, hanya duduk diam menatap dinding yang retak di sudut.

Sementara itu, Pak Salim baru pulang dari rumah tetangga. Wajahnya tampak lebih lelah dari biasanya. Kayu bakar yang ia bawa tadi pagi hanya laku separuh harga karena terlalu basah. Tapi saat ia melihat Hamja murung, ia pura-pura bersikap biasa. Ia tahu sesuatu terjadi, dan ia tahu pula bahwa Hamja bukan tipe anak yang mudah mengeluh.

Saat malam tiba dan makan malam selesai dengan singkong goreng seadanya, Pak Salim duduk di sebelah anaknya yang masih membuka buku matematika.

“Ada yang Ayah boleh tahu?” tanyanya pelan.
Hamja menoleh ragu. Ia ingin bercerita, tapi tak ingin terdengar menyalahkan. Ia menarik napas, lalu berkata lirih,
“Sepatuku makin rusak, Yah. Seragamku juga sobek. Aku malu di sekolah.”

Pak Salim diam. Ia menatap wajah anaknya yang polos tapi tampak terluka. Ia lalu berdiri dan mengambil kantong kain kecil dari balik lemari bambu. Isinya recehan logam dan beberapa lembar uang ribuan yang kusut.

“Besok Ayah perbaiki sepatumu, ya. Seragammu… kita jahit yang lama. Yang penting kamu jangan malu.”

“Tapi, Yah, kalau nanti ada seleksi beasiswa dari kabupaten… apa aku bisa ikut? Aku takut ditolak cuma karena bajuku jelek.”

Pak Salim tersenyum, tapi matanya berkaca.

“Kamu tahu, Ja? Guru bukan diukur dari bajunya, tapi dari hatinya. Kalau kamu sungguh-sungguh, baju bisa sobek, tapi ilmu mu tidak.”

Hamja menunduk. Tangannya gemetar menggenggam buku. Ia tidak menjawab, hanya mengangguk pelan.

Malam itu, Pak Salim duduk di dapur menambal sepatu Hamja dengan sisa kulit bekas dari sandal jepit lama. Jahitannya tidak rapi, tapi kuat. Ia juga menjahit bagian seragam yang sobek dengan benang coklat yang kontras, tak serasi dengan warna kain putih. Tapi semua itu dilakukan dengan cinta yang tulus, yang tak butuh warna serasi untuk bisa bermakna.

Pagi harinya, Hamja memakai sepatu yang sudah diperbaiki. Rasanya masih miring dan keras di bagian sol, tapi ia tak mengeluh. Seragamnya tampak lebih kaku karena bekas jahitan baru, tapi ia tetap memakainya dengan penuh percaya diri. Saat berjalan ke sekolah, ia melirik ke belakang, melihat ayahnya melambaikan tangan dari depan kebun kecil.

Di tangannya, Pak Salim memegang kapak, siap memulai hari yang baru. Hamja membalas lambaian itu dengan senyum, kali ini lebih tulus dan penuh tekad. Ia tahu, mungkin ia tidak sempurna di mata orang-orang kota. Tapi di matanya sendiri, ia adalah anak dari seorang pejuang yang tak pernah menyerah. Dan itu sudah lebih dari cukup.

IMG-20260420-WA0020
previous arrow
next arrow
IMG-20260423-WA0117
previous arrow
next arrow
images - 2026-04-22T235051.720
previous arrow
next arrow
FB_IMG_1776869755543
previous arrow
next arrow

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *