HALTENG — Jeritan dari hutan Patani kini berubah menjadi tuduhan terbuka terhadap negara yang dinilai terus gagal melindungi warganya. Bukan sekadar keluhan, peristiwa demi peristiwa berdarah di wilayah ini menjadi bukti nyata rapuhnya jaminan keamanan bagi rakyat sipil.
Di balik narasi stabilitas, fakta di lapangan justru menunjukkan ketakutan yang tak kunjung reda. Warga hidup dalam bayang-bayang kekerasan, sementara negara dianggap absen saat nyawa dipertaruhkan di tanah sendiri.
Deretan nisan baru di Patani menjadi simbol telanjang dari krisis perlindungan. Di tengah upaya menjaga citra, masyarakat Banemo, Bobane, dan sekitarnya terus menghadapi ancaman tanpa kepastian hukum maupun rasa aman.
Hutan yang dulu menjadi sumber kehidupan kini berubah menjadi ruang kematian. Ketika hukum tak bertaring dan pelaku belum tersentuh, muncul pertanyaan keras, apakah keadilan benar-benar berlaku bagi rakyat kecil?
Kini, amarah dan solidaritas warga menguat. Desakan publik tak lagi bisa diabaikan, usut tuntas, adili pelaku, dan hentikan pembiaran. Jika tidak, tragedi di Patani hanya akan menjadi bukti berulang bahwa nyawa rakyat terus dipertaruhkan tanpa perlindungan nyata. (Odhe/Red)















