HALTENG ~ Gelombang kemarahan warga Patani kian membuncah. Di tengah ketidakpastian yang mencekam, publik dihadapkan pada fakta mencengangkan, sebanyak 20 anggota DPRD Halmahera Tengah diduga “menghilang” tanpa jejak yang jelas. Kritik keras pun bermunculan di berbagai ruang diskusi, warga menyuarakan keresahan, kecurigaan, sekaligus kemarahan yang tak lagi terbendung.
“Rakyat butuh wakil, bukan misteri!” begitu salah satu suara lantang yang menggema di postingan disalah satu grup Patani. Dugaan pun berkembang liar, mulai dari keterlibatan Orang Tak Dikenal (OTK), hingga spekulasi penculikan terencana. Namun hingga kini, belum ada kejelasan resmi yang mampu menjawab kegelisahan publik, khususnya rakyat Patani.
Situasi ini dinilai bukan sekadar insiden biasa, melainkan sinyal bahaya bagi keberlangsungan demokrasi di daerah.
Warga mempertanyakan ke mana para wakil rakyat itu pergi? Mengapa lembaga yang seharusnya menjadi garda terdepan aspirasi justru lenyap dalam senyap? Ketika dewan yang diamanatkan rakyat tak lagi terlihat, kepercayaan publik pun terancam runtuh.
Nada protes semakin tajam. “Dewan bukan tempat menghilang! Dewan adalah amanat rakyat!” seruan ini mencerminkan luka kolektif masyarakat Patani yang merasa ditinggalkan. Dalam suasana penuh ketidakpastian, diamnya pihak berwenang justru dianggap memperdalam krisis kepercayaan.
Warga mendesak aparat penegak hukum bertindak cepat dan transparan. “Jika diam, kita semua korban!” menjadi peringatan keras atas potensi bahaya yang lebih luas. Tuntutan pun tegas untuk mengusut tuntas dugaan ini tanpa kompromi, bongkar siapa pun yang terlibat, dan segera kembalikan para anggota dewan kepada publik.
Bagi masyarakat Patani, ini bukan sekadar kabar hilangnya pejabat ini adalah potret duka, kecemasan, dan kemarahan rakyat yang merasa suaranya ikut “diculik”. Demokrasi, bagi mereka, sedang berada di ujung tanduk. (Odhe/Red)















